Bayangan yang Mengajarkanku Berbohong Lorong istana itu sunyi. Lebih sunyi dari makam para kaisar. Obor-obor di dinding menari lemah, melemparkan bayangan panjang yang meliuk-liuk seperti ular. Di …
Aku Menatapmu dari Altar, Tapi Surga Menutup Pintunya Aula Emas menjulang tinggi, tiang-tiangnya dihiasi naga-naga yang berkilauan. Namun, kilau emas itu tak mampu menghapus aura menekan yang meny…
Hujan selalu turun di atas Makam Keluarga Li. Rintiknya, seperti air mata yang tak pernah kering, membasahi nisan-nisan yang berbaris sunyi. Di antara nisan itu, ada satu yang selalu terasa lebih di…
Layar ponselku menyala. Notifikasi dari aplikasi musik, rekomendasi lagu patah hati. Ironis. Seperti hidupku , ironis. Hujan kota Jakarta di luar jendela mengaburkan lampu-lampu jalan. Aroma kopi pa…
Senandung Guqin di Malam Patah Hati Langit Kota Terlarang membentang kelabu, serupa hatiku. Di balkon istana yang sunyi, jemariku menari di atas senar guqin, melantunkan melodi pilu. Setiap nada ad…
Bayangan yang Terlahir dari Rasa Sakit Hujan kota melukis jendela apartemen Ji-hoon. Setiap tetesnya adalah kenangan yang gagal dihapus. Cahaya ponsel di genggamannya, satu-satunya bintang di mala…
Langit senja memerah di atas kota Chang'an yang berdebu. Di tengah hiruk pikuk pasar, berdiri seorang wanita bernama Mei Lan. Rambutnya yang legam, dulu terurai indah bak sutra, kini hanya terik…