Dracin Terbaru: Kau Mencariku Dalam Doa, Dan Aku Menjawab Dalam Mimpi

Langit senja memerah di atas kota Chang'an yang berdebu. Di tengah hiruk pikuk pasar, berdiri seorang wanita bernama Mei Lan. Rambutnya yang legam, dulu terurai indah bak sutra, kini hanya terikat sederhana. Wajahnya, yang dulu dipuja karena kecantikannya yang memukau, kini tersamar di balik riasan tipis, menyembunyikan luka yang mendalam.

Mei Lan dulunya adalah PUTRI MAHKOTA, tunangan kaisar. Di dalam istana yang megah, ia hidup dalam kemewahan dan cinta, namun semua itu direnggut darinya dalam semalam. Kaisar, dibutakan oleh ambisi kekuasaan, mengkhianatinya, menjebaknya dalam konspirasi, dan merebut tahtanya. Mei Lan, yang tak berdaya, menyaksikan keluarganya dibantai dan dirinya diusir dari istana, kehilangan segalanya.

Cinta yang dulu ia agungkan, berubah menjadi belati yang menusuk jantungnya. Kekuasaan yang dulu melindunginya, kini menjadi cambuk yang mencambuk punggungnya. Mei Lan terhempas ke dalam jurang keputusasaan, namun di sanalah, di dasar kehancuran, ia menemukan kekuatan yang tak pernah ia duga.

Bunga Lotus memang tumbuh indah di tengah lumpur. Mei Lan memilih untuk bangkit.

Ia menghabiskan bertahun-tahun menyamar, mempelajari strategi perang, merangkai aliansi, dan menajamkan intuisinya. Setiap malam, ia bermimpi tentang PEMBALASAN, bukan karena amarah yang membabi buta, melainkan karena keadilan yang harus ditegakkan. Dalam doanya, ia merasakan kekuatan yang mengalir dalam nadinya, membuatnya mampu menahan beban dendam yang membara.

Ia membangun dirinya kembali, satu langkah demi satu langkah. Dari abu kehancuran, ia menjelma menjadi sosok yang anggun dan mematikan. Kelembutannya bukan lagi kelemahan, melainkan topeng yang menyembunyikan ketajaman pikirannya. Luka-lukanya bukan lagi cacat, melainkan ukiran yang menceritakan kisahnya yang penuh perjuangan.

Suatu malam, di tengah badai salju, Mei Lan kembali ke istana. Ia tidak datang dengan pedang terhunus atau teriakan kemarahan. Ia datang dengan ketenangan yang mencengkeram, seperti DEWI KEADILAN yang turun dari langit.

Kaisar, yang kini renta dan penuh penyesalan, menatapnya dengan mata terbelalak. Ia melihat bayangan putrinya yang dulu, tetapi juga merasakan aura kekuatan yang belum pernah ia saksikan.

Mei Lan, dengan suara yang lembut namun menusuk, menyampaikan tuntutannya. Bukan tahta yang ia inginkan, melainkan pengakuan dosa dan pemulihan nama baik keluarganya. Ia tidak ingin mengulangi kesalahan kaisar, ia ingin membangun kembali kerajaannya di atas fondasi keadilan dan cinta.

Kaisar, tak berdaya menghadapi ketenangan Mei Lan, akhirnya menyerah. Ia mengakui kejahatannya di hadapan seluruh rakyat, dan mengembalikan kehormatan keluarga Mei Lan.

Mei Lan, berdiri tegak di hadapan istana yang dulu merenggut segalanya darinya, merasakan kedamaian yang ia dambakan selama ini. Dendamnya telah terbalaskan, bukan dengan pertumpahan darah, melainkan dengan ketenangan yang mematikan.

Ia tidak kembali menjadi putri mahkota, ia tidak menginginkan kekuasaan. Ia memilih untuk melangkah keluar dari istana, meninggalkan masa lalu yang kelam, dan menatap masa depan yang penuh harapan.

Ia berbalik, meninggalkan istana di belakangnya, dan sebuah bisikan lirih mengiringi langkahnya: "Kini, aku adalah ratuku sendiri, dan kerajaanku adalah... KEDAMAIAN."

You Might Also Like: Jual Skincare Aman Untuk Kulit Sensitif

Post a Comment