Bayangan yang Terlahir dari Rasa Sakit
Hujan kota melukis jendela apartemen Ji-hoon. Setiap tetesnya adalah kenangan yang gagal dihapus. Cahaya ponsel di genggamannya, satu-satunya bintang di malam yang kelam. Notifikasi dari grup chat kantor berkedip-kedip, tapi pikirannya jauh, melayang di antara sisa percakapan terakhirnya dengan Ara.
Ara, di mana kamu? Pesan itu tak pernah terkirim. Terjebak di antara sinyal Wi-Fi yang lemah dan hatinya yang hancur.
Aroma kopi memenuhi ruangan. Secangkir kopi yang ia buatkan untuk Ara, kini dingin dan tak tersentuh. Dulu, kopi ini adalah saksi bisu tawa mereka, lelucon yang hanya mereka berdua mengerti, dan bisik-bisik tentang masa depan yang mereka impikan. Sekarang, hanya ada sepi.
Ji-hoon ingat bagaimana pertama kali mereka bertemu. Di kafe yang sama ini. Ara, dengan rambut hitam legam dan senyum yang lebih cerah dari lampu neon kota, menabraknya, menumpahkan kopi panas ke kemejanya. Ia marah, tentu saja. Tapi mata Ara… ada sesuatu di sana yang menariknya, seperti magnet yang tak terlihat.
Mereka jatuh cinta dengan cepat dan intens. Terlalu intens, mungkin.
Misteri dimulai ketika Ara tiba-tiba menghilang. Tanpa jejak, tanpa penjelasan. Hanya ada pesan singkat: "Maaf. Aku harus pergi."
Ji-hoon mencari Ara ke mana-mana. Menghubungi teman-temannya, keluarganya. NIHIL. Seolah Ara tidak pernah ada. Tetapi Ji-hoon tahu, ia merasakan kehadiran Ara dalam setiap bayangan, dalam setiap hembusan angin, dalam setiap nada lagu yang pernah mereka dengarkan bersama.
Kemudian, ia menemukan buku catatan Ara. Tersembunyi di antara tumpukan novelnya. Di sana, terungkaplah sebuah rahasia: Ara adalah putri dari seorang CEO korporasi besar yang terlilit hutang. Menghilang adalah satu-satunya cara untuk melindungi Ji-hoon dari bahaya yang mengintai.
Rasa sakitnya berlipat ganda. Ia tidak marah, tapi patah hati. Ia tidak menyalahkan Ara, tapi menyalahkan dunia yang kejam ini.
Balas dendam yang dipilih Ji-hoon bukanlah teriakan marah atau tindakan gegabah. Melainkan sebuah pesan terakhir. Sebuah video singkat yang ia unggah ke media sosial. Di video itu, ia tersenyum tulus, tatapannya lembut, dan berkata:
"Ara, aku tahu kamu melihat ini. Aku memaafkanmu. Aku mengerti. Dan aku akan bahagia. Bahagia untuk kita berdua."
Di akhir video, ia meminum kopi dingin itu, menatap kamera, dan tersenyum sekali lagi. Senyum yang sama yang dulu membuat Ara jatuh cinta padanya. Senyum terakhir untuk Ara.
Ji-hoon kemudian menghapus semua foto Ara dari ponselnya. Memblokir semua kontaknya. Menghapus semua jejak digital Ara dari hidupnya. Ini bukan tentang melupakan. Ini tentang membebaskan.
Ia berjalan keluar dari apartemennya. Hujan sudah berhenti. Langit mulai cerah. Ia menarik napas dalam-dalam.
Ia tahu, jauh di lubuk hatinya, bahwa Ara akan selalu menjadi bagian dari dirinya. Tapi ia juga tahu bahwa ia harus melanjutkan hidup.
Ia melihat pantulan dirinya di jendela toko. Ia melihat seorang pria yang lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih damai.
Dan kemudian, ia pergi…
… menuju masa depan yang tidak lagi memiliki bayangan Ara, ataukah justru Ara telah menjadi bayangan itu sendiri, abadi namun tak terjangkau?
You Might Also Like: Kisah Seru Tangisan Yang Kucium Sebelum
Post a Comment