Kisah Seru: Kau Menyebut Namaku Pelan, Dan Seluruh Dunia Berhenti Sejenak

**Kau Menyebut Namaku Pelan, dan Seluruh Dunia Berhenti Sejenak** Lorong istana membentang bagai ular naga yang membisu. Dinding batu abu-abu menjulang tinggi, menelan cahaya obor hingga menyisakan bayangan yang menari-nari. Udara dingin menusuk tulang, membawa aroma cendana dan debu berabad-abad. Di tengah kesunyian itu, langkah kaki terdengar. Bukan langkah tergesa, melainkan langkah pasti, tenang, seolah pemiliknya **TIDAK** asing dengan labirin kerajaan ini. Dia muncul dari balik pilar, sosok yang seharusnya telah lama menjadi legenda. *Zhao Mei*. Sepuluh tahun lalu, dia terjatuh dari tebing Pegunungan Seribu Kabut, diyakini tewas. Kini, dia berdiri di sini, di hadapan Kaisar yang telah memakamkannya dalam ingatan. Wajahnya nyaris tak berubah, hanya ada sedikit garis halus di sudut mata, menyimpan cerita yang tak terkatakan. "Zhao Mei..." bisik Kaisar, suaranya serak. "Kau... *benar* kau?" Zhao Mei tersenyum tipis, senyum yang tak mencapai matanya. "Yang Mulia masih meragukanku? Padahal, Yang Mulia sendiri yang memerintahkan pencarian jenazahku." "Aku... aku berduka. Aku mencarimu sampai..." Kaisar terdiam, kehilangan kata-kata. Matanya memancarkan kebingungan, kekhawatiran, dan sesuatu yang **LAIN**. "Mencariku untuk memastikan aku *benar-benar* mati, Yang Mulia?" suara Zhao Mei lembut, namun menusuk seperti jarum es. Kaisar tersentak. "Apa maksudmu?" "Pegunungan Seribu Kabut menyimpan banyak rahasia, Yang Mulia. Kabutnya menyembunyikan kebenaran, dan anginnya membisikkan kebohongan. Sepuluh tahun aku berada di sana, mempelajari kebenaran yang Yang Mulia sembunyikan dengan begitu rapi." Zhao Mei melangkah mendekat, tatapannya mengunci Kaisar. "Kematianku bukanlah kecelakaan, bukan?" Kaisar mundur selangkah. "Kau menuduhku?" "Bukan menuduh. Menyatakan *fakta*. Siapa yang paling diuntungkan dengan kepergianku? Siapa yang menginginkan takhta dengan begitu *bernafsu*? Siapa yang rela mengorbankan *segalanya* untuk kekuasaan?" Sunyi kembali menyelimuti lorong istana. Hanya deru napas Kaisar yang terdengar. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Dia menatap Zhao Mei, dan untuk pertama kalinya, dia melihat bukan lagi seorang *korban*, melainkan seorang *DALANG*. "Kau tahu, Yang Mulia," bisik Zhao Mei, mendekatkan bibirnya ke telinga Kaisar. "Legenda Pegunungan Seribu Kabut mengatakan, mereka yang *mati* di sana tidak benar-benar pergi. Mereka menjadi bagian dari kabut, mengamati, menunggu, merencanakan... dan akhirnya *kembali*." Kemudian, Zhao Mei menjauh, menatap Kaisar dengan senyum dingin yang membekukan darah. "Kau salah, Yang Mulia. *Aku* tidak pernah terjatuh dari tebing. *Kaulah* yang mendorongku, dan *aku* yang membiarkanmu berpikir demikian... Sampai saat yang tepat untuk kembali." Kaisar terdiam. Tubuhnya membeku. Di dalam hatinya, dia tahu, dia telah kalah. *Semua adalah bagian dari rencana*. ***Dialah kabut itu sendiri, dan dia telah kembali untuk menuntut balas.***
You Might Also Like: Endingnya Gini Tangisan Yang Tak Lagi

Post a Comment