**Air Mata yang Menjadi Tanda Kemenangan** Kabut tipis menyelimuti puncak Gunung Tai, menelan mentari pagi dalam pelukan dinginnya. Di bawah sana, di jantung Dinasti Ming, lorong-lorong istana terdiam membisu. Lantai marmer dipenuhi debu usia, saksi bisu intrik dan pengkhianatan. Lima belas tahun lalu, Pangeran Rui, pewaris tahta yang penuh harapan, dinyatakan tewas dalam perburuan yang **tragis**. Jenazahnya tak pernah ditemukan, hanya noda darah dan spekulasi yang memenuhi tiap sudut istana. Malam ini, di bawah rembulan pucat, sosok berjubah hitam muncul dari kegelapan. Langkahnya ringan, nyaris tak bersuara, seolah ia adalah hantu masa lalu yang kembali menghantui. Dialah Lin Yi, tabib istana yang setia dan tepercaya, *dulu*. Di ujung lorong, Putri Lian, adik Pangeran Rui, menunggunya. Wajahnya pucat, dihiasi kerutan kekhawatiran. Gaun sutranya berwarna abu-abu, mencerminkan kepedihan yang tak kunjung sirna. "Kau kembali, Lin Yi," bisiknya, suaranya bergetar. "Setelah sekian lama... apa kau membawa kebenaran tentang malam itu?" Lin Yi membungkuk hormat. "Putri, kebenaran adalah permata yang tersembunyi. Ia bersinar hanya bagi mereka yang berani menggali lebih dalam." "Katakan! Apa yang terjadi pada kakakku? Apakah dia benar-benar..." Lian tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Lin Yi mendekat, sorot matanya tajam menembus kabut kesedihan Lian. "Pangeran Rui tidak mati, Putri. Dia *diselamatkan*. Namun, keselamatan itu hadir dengan harga yang sangat mahal." Suara gemerisik kain sutra memenuhi keheningan. Lian memegangi dadanya, napasnya tercekat. "Siapa yang menyelamatkannya? Dan mengapa dia tidak kembali?" "Dia diselamatkan oleh *orang yang paling tidak terduga*, Putri. Orang yang selama ini kau anggap sebagai korban," jawab Lin Yi, suaranya berbisik, penuh misteri. Mata Lian membelalak. "Maksudmu... *Ibu Suri*?" Lin Yi mengangguk. "Ibu Suri menyadari rencana para pemberontak. Malam itu, dia mengganti racun yang seharusnya diminum Pangeran Rui dengan ramuan yang membuatnya tampak mati. Dia kemudian menyembunyikan Pangeran Rui, melindunginya dari bahaya yang mengintai." "Tapi... mengapa? Mengapa dia tidak mengungkapkannya?" Lian bertanya, suaranya penuh kebingungan. Lin Yi tersenyum tipis. "Ibu Suri tahu, jika Pangeran Rui kembali terlalu cepat, para pemberontak akan membunuhnya. Dia membutuhkan waktu. Waktu untuk menyusun kekuatan, waktu untuk menghancurkan mereka dari dalam." Lian terdiam. Potongan-potongan teka-teki mulai menyatu. Kebencian Ibu Suri terhadap para menteri korup, dukungannya yang diam-diam pada gerakan rakyat, semua itu adalah bagian dari rencana ***BESAR***. "Lalu... dimana Pangeran Rui sekarang?" tanya Lian, suaranya bergetar penuh harap. Lin Yi berlutut. "Pangeran Rui sudah kembali, Putri. Dia berada di tengah-tengah kita, mengawasi, merencanakan. Dia adalah pemimpin sejati yang akan membawa dinasti ini menuju kejayaan." Lian menatap Lin Yi dengan tatapan penuh curiga. "Kau bicara seolah... *kau mengenalnya dengan sangat baik*. Terlalu baik malah." Lin Yi tersenyum, senyum yang tidak mencapai matanya. Dia perlahan membuka jubahnya, menampakkan wajah yang sudah lama dirindukan namun *SEKARANG* terasa asing. "Karena *aku* adalah Pangeran Rui, Putri. Dan air mata yang selama ini kau teteskan adalah saksi bisu bagi kemenangan yang sudah *kurencanakan* sejak awal."
You Might Also Like: Reseller Kosmetik Usaha Sampingan

Post a Comment