Dracin Populer: Aku Memintamu Pergi, Tapi Langkahmu Masih Tinggal Di Pikiranku

Oke, ini dia cerita pendek bergaya *dracin* yang kamu minta: **Judul: Aku Memintamu Pergi, Tapi Langkahmu Masih Tinggal di Pikiranku** Lampu lentera merah di balkon Istana Timur bergoyang pelan, menari mengikuti irama *guqin* yang memilukan. Di balik tirai sutra, aku, Li Wei, *Selir Kekaisaran yang dilupakan*, hanya bisa mendengarkan. Nada-nada itu, seperti jarum yang menusuk jantungku, mengingatkanku pada malam itu…malam di mana aku **MEMINTANYA** pergi. Dia, Pangeran Zhou Lin, tatapannya teduh bagai danau di musim semi, memohon padaku untuk ikut bersamanya. Meninggalkan gemerlap istana yang busuk ini, melarikan diri ke desa terpencil di selatan, di mana kami bisa menanam teh dan melukis gunung. Tapi aku menolak. "Pergilah, Zhou Lin," bisikku, air mata membasahi pipiku. "Ini bukan tempatmu. Aku…aku *tidak pantas* untukmu." Kata-kata itu, terasa pahit di lidahku. Bukan karena aku tak mencintainya. Justru sebaliknya. Cinta ini terlalu dalam, terlalu berbahaya. Karena aku menyimpan sebuah **RAHASIA**. Rahasia yang jika terungkap, akan menghancurkan seluruh Kekaisaran. Rahasia tentang siapa aku sebenarnya. Zhou Lin pergi. Meninggalkanku dalam kesunyian istana yang hampa. Setiap malam, aku akan menyelinap ke perpustakaan terlarang, mencari jawaban dalam gulungan-gulungan kuno. Mencari cara untuk melindungi dirinya…melindungi **KEBENARAN**. Bertahun-tahun berlalu. Kudengar Zhou Lin menjadi jenderal besar yang gagah berani, memimpin pasukan ke perbatasan utara. Kudengar dia menikah dengan putri dari suku barbar, memperkuat aliansi. Kudengar…dia **BAHAGIA**. Kebahagiaan yang tidak bisa kuberikan. Namun, kebahagiaan itu rapuh. Satu per satu, orang-orang yang dekat dengan Zhou Lin mulai tewas. Kecelakaan, penyakit misterius…semuanya ditutupi dengan rapi. Aku merasakan sesuatu yang aneh. Seseorang sedang bermain api. Seseorang sedang *memanipulasi* takdir. Dan kemudian, surat itu datang. Diselundupkan masuk melalui jaringan mata-mataku. Surat dengan lambang segel keluarga Zhou yang patah. Di dalamnya, hanya ada satu kata: "**IBLIS**." Saat itulah aku mengerti. Kebenaran itu akhirnya terungkap. Bukan aku yang menyimpan rahasia. Tapi Zhou Lin. Dia…bukanlah seorang pangeran. Dia adalah keturunan *Klan Pembunuh Bayangan*, klan yang dikutuk untuk memusnahkan keluarga kekaisaran. Dan aku…aku adalah *Keturunan Terakhir dari Keluarga Kekaisaran yang Asli*. Takdir mempermainkanku dengan kejam. Aku mencintai orang yang ditakdirkan untuk membunuhku. Tapi aku tak bisa membiarkan itu terjadi. Aku tak bisa membiarkan *Klan Pembunuh Bayangan* mengambil alih Kekaisaran. Maka, aku pun bertindak. Dengan diam-diam, dengan lihai, aku mulai memutarbalikkan keadaan. Aku menggunakan pengaruhku, kekuatanku, pengetahuanku tentang racun dan sihir terlarang, untuk mengarahkan Zhou Lin menuju kebenaran. Menuju takdirnya yang *sebenarnya*. Aku tidak membunuhnya. Aku tidak menyakitinya. Aku hanya…membuka matanya. Zhou Lin akhirnya menyadari siapa dia sebenarnya. Dia melihat bagaimana *Klan Pembunuh Bayangan* telah memanipulasinya sejak kecil. Dia melihat bagaimana orang-orang yang dicintainya telah dikorbankan untuk tujuan mereka. Di malam yang berbadai, dia berdiri di hadapanku, matanya penuh dengan amarah dan kesedihan. "Mengapa?" tanyanya, suaranya bergetar. "Mengapa kau tidak memberitahuku?" Aku hanya tersenyum tipis. "Karena terkadang, kebenaran lebih menyakitkan daripada kebohongan." Zhou Lin kemudian berbalik. Dia pergi. Kali ini, untuk selamanya. Kudengar dia memimpin pemberontakan terhadap *Klan Pembunuh Bayangan*. Kudengar dia menang. Kudengar dia menghilang setelah itu, meninggalkan Kekaisaran yang damai dan stabil. Aku kembali menjadi Selir Kekaisaran yang dilupakan. Tetap di istana yang dingin ini, ditemani oleh lantunan *guqin* dan kenangan tentang seorang pangeran…atau seorang pembunuh…yang pernah kucintai. Takdir telah berbalik. Balas dendam telah terjadi tanpa kekerasan. Semuanya kembali ke tempatnya. Kecuali satu hal… Senyum Zhou Lin, masih terukir jelas di hatiku, bagai *bayangan rembulan yang tak pernah bisa digapai*.
You Might Also Like: Kisah Populer Aku Menjadi Foto Yang

OlderNewest

Post a Comment