Drama Populer: Bayangan Yang Menghilang Di Tengah Asap

Baiklah, ini dia kisah dracin intens berjudul 'Bayangan yang Menghilang di Tengah Asap': **Bayangan yang Menghilang di Tengah Asap** Malam itu, kabut menyelimuti Paviliun Giok seperti kain kafan. Udara berat, beraroma dupa cendana dan... darah. Salju turun dengan malas, menutupi halaman dengan lapisan putih yang mengkhianati noda merah yang tercetak di atasnya. Di tengah pusaran salju, berdiri **Li Wei**, wajahnya bagai pahatan es, matanya berkilat bagai bara api terpendam. Di hadapannya, berlutut **Zhang Feng**, tubuhnya bergetar bukan karena dingin, melainkan karena ketakutan yang meremukkan tulang. Mereka terikat. Dulu oleh cinta yang membara, kini oleh kebencian yang membakar habis semua kenangan manis. Cinta mereka, dulu seindah lukisan di sutra, kini menjadi puing-puing yang berserakan di tengah badai. "Dulu... aku pikir kau malaikat," suara Li Wei berdesir seperti angin dingin. "Tapi ternyata, kau hanyalah iblis berwujud manusia." Zhang Feng mendongak, air mata membeku di pipinya. Di antara kepulan asap dupa yang memenuhi ruangan, matanya memancarkan penyesalan yang dalam, namun terlambat. Terlambat untuk menjelaskan, terlambat untuk meminta maaf, terlambat untuk merebut kembali hatinya. "Wei... aku..." Li Wei mengangkat tangannya, menghentikan ucapan Zhang Feng. Di tangannya tergenggam belati perak, berkilauan mematikan di bawah cahaya rembulan yang menerobos celah kabut. Belati yang dulu digunakan untuk mengukir janji di batang pohon sakura, kini akan menjadi saksi bisu akhir dari segalanya. "Janji di atas abu... hanyalah debu belaka," bisik Li Wei, suaranya nyaris tak terdengar. Rahasia lama, seperti naga tidur, akhirnya terbangun dari tidurnya. Kebohongan yang dipelihara selama bertahun-tahun, kini meledak dengan dahsyat. Zhang Feng, ternyata, adalah dalang di balik kematian ayah Li Wei. Sebuah pengkhianatan yang begitu dalam, hingga mengoyak jiwa Li Wei menjadi serpihan-serpihan tak berbentuk. Malam itu, keadilan ditegakkan. Bukan dengan teriakan amarah, bukan dengan luapan emosi. Melainkan dengan ketenangan yang menakutkan. Li Wei, dengan tatapan dingin yang menusuk jiwa, menusukkan belati itu. Bukan di jantung, melainkan di tempat yang lebih menyakitkan: di hati. *BALAS DENDAM* itu sunyi. Tak ada jeritan, tak ada rintihan. Hanya suara napas terakhir Zhang Feng yang menguap di antara asap dupa dan salju yang terus berjatuhan. Li Wei berdiri di atas mayat Zhang Feng, bayangannya memanjang di lantai yang berlumuran darah. Matanya kosong, hatinya hampa. Dendam memang terbalaskan, tapi tidak membawa kedamaian. Yang ada hanyalah kehampaan yang lebih dalam dari samudra. Kemudian, dia berbalik, melangkah keluar dari Paviliun Giok, meninggalkan jejak kaki berdarah di atas salju. Dia menghilang di tengah kabut, seperti hantu yang mencari ketenangan abadi. Dia tahu, ini bukan akhir dari segalanya. *Karena bayangannya, akan terus menghantuinya selamanya...*
You Might Also Like: Distributor Kosmetik Bisnis Tanpa Modal

Post a Comment