Cerita Populer: Langit Yang Tak Bisa Lupa

Hujan menggigil di atap Paviliun Seribu Angin, sama seperti hatiku yang telah lama membeku. Delapan tahun. Delapan tahun sejak hari itu. Hari di mana janji kita terkoyak, seperti layang-layang putus diterjang badai. Aku menatap cermin perunggu yang memantulkan bayanganku – bayangan yang *patah*, sama seperti diriku. Dulu, di mata Lin, aku adalah musim semi. Sekarang, aku hanyalah musim gugur yang layu. Lin. Nama itu, seperti mantra yang dulu memabukkan, kini terasa seperti duri yang menggores kerongkongan. Dia datang kembali. Setelah delapan tahun menghilang, dia berdiri di hadapanku, di tengah keramaian pasar malam, seperti hantu dari masa lalu. Senyumnya masih sama, menawan dan menusuk. Tatapannya… *kosong*. "Lama tidak bertemu, Yun." Suaranya rendah, berbisik, seperti desahan angin malam. Aku hanya mengangguk, mencoba menyembunyikan getaran di tanganku. Cahaya lentera di dekat kami berkedip-kedip, nyaris padam. Seperti harapan yang telah lama aku kubur. Malam-malam berikutnya diisi dengan percakapan hambar, senyum palsu, dan tatapan curiga. Dia bercerita tentang perjalanannya, tentang kesuksesannya. Aku mendengarkan dengan sabar, menyimpan semua racun itu di dalam hati. Dia bertanya tentang hidupku, tentang pernikahanku. Aku menjawab dengan singkat, berusaha tidak membiarkannya melihat *kekosongan* yang menganga di dalam jiwaku. Dia tidak tahu. Dia tidak pernah tahu. Aku melihatnya setiap hari, tertawa, bercanda dengan teman-temannya. Dia tampak bahagia. **BAHAGIA**. Sementara aku, setiap malam, bermimpi tentang hari itu. Hari di mana aku akan membuatnya merasakan sakit yang sama. Dia pikir aku telah memaafkannya. Dia pikir aku telah melupakannya. Dia salah. Setiap kali dia menatapku dengan tatapan *rindu* yang palsu itu, aku merasakan api kemarahan membara di dalam dadaku. Aku melihat bayangan masa lalu, bayangan Lin yang dulu kucintai, perlahan-lahan terbakar menjadi abu. Dia tidak tahu bahwa setiap kebaikan yang aku tunjukkan padanya, setiap senyum yang aku berikan, adalah bagian dari rencanaku. Rencana yang telah kurangkai selama delapan tahun. Rencana yang akan membuat dia kehilangan segalanya. Malam ini, bulan purnama bersinar terang di langit. Kami berdiri di tepi danau, tempat di mana kami dulu berjanji akan saling mencintai selamanya. "Yun," katanya, suaranya lembut. "Aku… aku menyesal." Aku tersenyum. Senyum yang dingin dan mematikan. "Penyesalanmu... *terlambat*," bisikku. Dia menatapku dengan bingung. Aku mengangkat tanganku dan memberinya isyarat. Dari balik pepohonan, muncul sosok-sosok berpakaian hitam, wajah mereka tertutup kain. Ketakutan terpancar jelas di matanya. "Apa... apa ini?" tanyanya terbata-bata. Aku mendekat, membisikkan sesuatu di telinganya. "Ingat malam itu, Lin? Malam di mana kau meninggalkanku? Malam di mana kau mengambil *segalanya* dariku?" Dia menatapku dengan *kengerian* yang tak terhingga. "Kau... kau..." Aku tertawa. Tawa yang hampa dan penuh dendam. "Delapan tahun, Lin. Delapan tahun aku menunggu saat ini." Para pria berpakaian hitam itu mendekat. Lin mencoba melarikan diri, tapi terlambat. Mereka menangkapnya dan menyeretnya pergi. Aku berdiri di tepi danau, menatap bayangan bulan yang terpantul di air. Hujan mulai turun lagi. Dia tidak tahu. Dia tidak pernah tahu bahwa alasan mengapa *DIA* bisa begitu mudah menikahi putri bangsawan, menduduki posisi terhormat di istana, dan memiliki segalanya... adalah karena... *akulah yang membunuh suaminya*.
You Might Also Like: Discover Chemical Elements Exploring

Post a Comment