Drama Abiss! Janji Yang Dibalut Darah Dan Air Mata

**Janji yang Dibalut Darah dan Air Mata** Layar ponsel retak, sama seperti hatiku. Sinyal hilang, seperti janji *dia*. Di dunia yang remuk ini, di mana notifikasi cinta hanya berupa 'sedang mengetik' yang abadi, aku, Aila, hidup di puing-puing kenangan. Tanganku gemetar saat menyentuh foto usang di galeri. Wajah Jun, senyumnya yang selalu bisa menenangkan badai di dalam diriku… wajah yang kini hanya ada dalam *masa lalu*. Di seberang jurang waktu, di sebuah kota futuristik yang diselimuti neon dan polusi digital, ada Jun. Dia menatap hologram langit yang tak pernah lagi memancarkan mentari pagi. Jun merindukan sentuhan tangan Aila, aroma tanah basah setelah hujan, hal-hal sederhana yang tak lagi ada di *masa depan*. Ia mengirim pesan, pesan-pesan putus asa yang melintasi dimensi, tapi hanya sampai di kegelapan server yang mati. "Aila, di mana kau?" bisiknya pada udara. Aila, di masa lalu yang sekarat, merasakan getaran aneh setiap kali badai petir menyambar. Itu *mungkin* pesan dari Jun. Ia mencoba membalas, mengetik kata-kata cinta dan kerinduan di layar ponselnya yang semakin redup. Tapi kata-kata itu hanya menjadi debu digital yang tersapu angin waktu. Suatu malam, Aila menemukan sebuah diary tua di loteng rumahnya. Diary itu penuh dengan tulisan tangan seorang ilmuwan gila, tentang eksperimen waktu dan dimensi paralel. Dan di halaman terakhir, tertulis sebuah nama: JUN. Jantung Aila berdebar kencang. Apakah ini semua *terhubung*? Jun, di masa depan, menemukan sebuah artefak aneh di reruntuhan laboratorium kuno. Artefak itu berdenyut dengan energi aneh, memancarkan aura masa lalu yang pedih. Ia menyentuhnya, dan sebuah penglihatan menghantamnya: Aila, menangis di tengah reruntuhan, meneriakkan namanya. Mereka terus mencari, terus berjuang, terjebak dalam labirin waktu yang absurd. Cinta mereka, sekuat baja dan serapuh kaca, adalah satu-satunya hal yang tersisa. Sampai akhirnya, mereka menemukan titik temu… *sebuah kesalahan*. Di sebuah portal waktu yang rusak, mereka bertemu. Aila melihat Jun dengan mata yang berlinang air mata. Jun melihat Aila, siluetnya berbayang di tengah kabut dimensi. Mereka mencoba menyentuh, tapi tangan mereka menembus satu sama lain. Kemudian, sebuah suara serak bergema di angkasa: "Kalian… hanyalah *gema*. Sebuah simulasi. Cinta kalian… sebuah loop yang tak pernah selesai." **Semua hanyalah… pesan terakhir… sebelum *kiamat* tiba…**
You Might Also Like: Rahasia Skincare Lokal Dengan Sodium

Post a Comment