Senandung Guqin di Malam Patah Hati
Langit Kota Terlarang membentang kelabu, serupa hatiku. Di balkon istana yang sunyi, jemariku menari di atas senar guqin, melantunkan melodi pilu. Setiap nada adalah air mata yang tak pernah jatuh, setiap getaran adalah ingatan yang tak lekang.
Kau bilang cinta sudah mati, Lei. Kau ucapkan kata-kata itu dengan tatapan sedingin es, seolah aku hanyalah debu di bawah kakimu. Kau memilihnya, Mei Lian, selir yang kecantikannya diagungkan seantero negeri.
Aku diam. Bukan karena aku lemah, bukan karena cintaku tak cukup kuat. Aku diam karena sebuah RA-HA-SI-A yang lebih besar dari istana ini, rahasia yang bisa mengguncang Dinasti Qing. Aku menyimpannya rapat, terkunci di balik senyum yang kupaksakan setiap hari.
Dulu, kau memanggilku Xiao Lan, anggrek kecilku. Sekarang, kau hanya menatapku tanpa minat. Namun, setiap kali mataku bertemu dengan matamu, aku melihatnya. Aku MERASAKANNYA. Jantungmu berdetak lebih cepat. Terasa seperti genderang perang yang berusaha menembus dadamu. Kau menyangkalnya, tapi aku tahu kebenaran itu ada di sana, terkubur di bawah lapisan kebohongan.
Beberapa bulan berlalu. Desas-desus mulai beredar. Mei Lian jatuh sakit misterius. Tabib kerajaan tak mampu menemukan obatnya. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya melemah setiap hari. Aku melihatmu semakin khawatir, Lei. Matamu dipenuhi ketakutan.
Suatu malam, aku melihatmu menyelinap keluar dari kamarnya. Kau membawa sebuah cawan kecil, isinya cairan merah pekat. Aku mengikutimu diam-diam, bersembunyi di balik pilar istana. Kau menuju sumur tua di ujung taman. Di sana, kau membuang cawan itu.
Saat itulah, aku mengerti. Mei Lian tidak sakit. Dia DIRACUN. Dan kau… kaulah yang melakukannya.
Kenapa? Kenapa kau membunuhnya?
Tentu saja, aku tahu jawabannya. Rahasia yang kusimpan, rahasia yang juga diketahui Mei Lian. Rahasia tentang siapa ayah kandungmu, Lei. Ayahmu adalah… selir dari dinasti sebelumnya, selir yang dikhianati dan dibuang oleh kaisar terdahulu. Mei Lian mengancam akan mengungkap kebenaran itu, Lei. Kebenaran yang akan menghancurkan tahtamu.
Aku tidak pernah memberitahumu kebenaran ini, Lei. Aku melindungimu, meski kau mengkhianatiku. Karena, meski kau telah menyakitiku, aku masih mencintaimu. Atau mungkin, aku hanya mencintai ilusi tentangmu.
Mei Lian meninggal beberapa hari kemudian. Kau tampak terpukul, Lei. Namun, aku melihat sedikit kelegaan di matamu. Kau bebas sekarang. Bebas dari rahasia itu. Bebas untuk memerintah tanpa bayang-bayang masa lalu.
Namun, takdir memiliki caranya sendiri. Beberapa bulan kemudian, muncul seorang utusan dari Mongolia. Dia membawa pesan dari seorang tetua suku. Pesan itu berisi silsilah keluarga kerajaan Mongolia. Di sana, tertulis dengan jelas: Mei Lian adalah putri kandung dari tetua suku tersebut.
Kau telah membunuh seorang putri Mongolia, Lei. Dan kau tahu apa artinya itu. Perang.
Mongolia menyerbu perbatasan. Kekacauan melanda negeri. Tahtamu terancam. Rakyatmu menderita. Kau akhirnya tahu, Lei. Balas dendam tidak perlu kekerasan. Takdir bisa menjadi senjata yang paling mematikan.
Aku berdiri di balkon istana, memandang kobaran api yang membakar langit Kota Terlarang. Aku tersenyum. Anggrek kecilmu akhirnya membalas dendam. Bukan dengan pedang, tapi dengan diam.
Dan sekarang, Lei, kau mengerti bukan? Cinta itu tidak pernah mati. Cinta itu hanya berubah menjadi senandung guqin yang mengiringi kejatuhanmu...
Tapi, apakah aku benar-benar ingin kau jatuh?
You Might Also Like: 52 Tutorial Paket Skincare Lokal Harga
Post a Comment