Harus Baca! Ratu Itu Duduk Di Singgasana Kosong, Karena Cintanya Telah Mati.

Di Singgasana Kesunyian, Ratu bertahta seorang diri. Kabut lavender menyelimuti taman istana, serupa air mata *diam* yang tumpah dari mata sang Ratu. Gaun sutranya, selembut embun pagi yang membeku, membisikkan kisah yang terlupakan. Angin mendesah melalui pilar-pilar marmer, membawa aroma bunga sakura yang layu, aroma *kenangan* yang pahit. Singgasana itu kosong di sisi kanannya, tempat di mana seharusnya sang Raja bertakhta. Namun, sang Raja… Ia hanyalah lukisan di atas sutra usang, senyumnya terpatri abadi, namun hangatnya hilang ditelan waktu. Ia hanyalah gema melodi yang pernah bergema di aula, kini hanya tinggal getaran hampa di telinga sang Ratu. Cinta mereka, **benarkah ada?** Bunga-bunga lotus yang tumbuh di kolam istana memerah darah, merefleksikan rona di pipi sang Ratu saat ia mengenang sentuhan *hantu* di tangannya. Mimpi-mimpi indah tentang malam-malam berbintang di bawah pohon sakura yang bermekaran, tentang bisikan janji setia di bawah rembulan purnama, kini terasa seperti serpihan kaca yang melukai kalbunya. Apakah sang Raja pernah benar-benar ada di sisinya? Atau hanyalah ilusi yang diciptakan oleh kesepian, oleh hasrat hati yang membara? Hari demi hari, sang Ratu terhanyut dalam pusaran keraguan. Istana megah itu terasa seperti kurungan emas, keindahan yang justru mencekik. Senyumnya memudar seperti tinta di atas perkamen tua, digantikan oleh kerinduan abadi pada sosok yang mungkin tak pernah nyata. Lalu, suatu senja yang kelabu, seorang pelayan tua yang renta menghampiri sang Ratu. Tangannya gemetar menyerahkan sebuah kotak kayu kecil yang terukir indah. Di dalamnya, tergeletak sehelai syal sutra berwarna senja, *identik* dengan warna yang sering dikenakan sang Raja dalam lukisan. "Ini… ini milik Jenderal Wei," bisik pelayan itu dengan suara serak. "Jenderal Wei yang gugur di medan perang, **bukan** Raja Agung." Detik itu, dunia sang Ratu runtuh. *Lukisan* itu bukan potret Raja, melainkan potret Jenderal kesayangannya yang telah lama hilang. Cinta yang ia puja, cinta yang ia yakini sebagai takdirnya, hanyalah bayangan dari kerinduan yang salah arah. Senyum sang Ratu kembali hadir, namun kali ini bukan kebahagiaan, melainkan **kepedihan yang mendalam**. Misteri terpecahkan, ilusi sirna, namun luka di hatinya menganga lebih lebar dari sebelumnya. *Dulu… aku melihatmu di antara mawar yang bermekaran.*
You Might Also Like: 0895403292432 Produk Skincare No

OlderNewest

Post a Comment