TOP! Ia Datang Saat Aku Sudah Tak Percaya Pada Kehidupan

Baik, ini adalah kisah dracin intens dengan nuansa yang Anda inginkan: **Ia Datang Saat Aku Sudah Tak Percaya pada Kehidupan** Malam itu *ABADI*, pekat dan menusuk seperti jarum es. Salju berjatuhan tanpa ampun, menutupi pekarangan Kuil Musim Dingin dengan kain putih yang sempurna, menyembunyikan jejak dosa dan harapan. Di dalam kuil, dupa terbakar pahit, asapnya menari-nari di sekitar wajah Lin Mei, wajah yang dulu cantik kini hanya tinggal bayangan dari kesedihan yang mendalam. Ia memandang lilin-lilin yang menyala redup, setiap nyala adalah satu hembusan napas terakhir dari keyakinannya. "Aku... sudah menyerah," bisiknya, suaranya serak dan hampir tak terdengar. Tiba-tiba, pintu berderit terbuka, membiarkan angin dingin masuk bersama sosok yang familier namun asing. Zhao Feng. Pria yang dulu dicintainya sepenuh jiwa, pria yang kini dibencinya dengan setiap serat nadinya. "Mei'er," sapanya, suaranya rendah dan penuh ironi. "Kau masih di sini." Tatapan Lin Mei tajam seperti belati. "Kau. Apa yang kau inginkan?" Zhao Feng mendekat, langkahnya tenang namun mengancam. Di matanya, berkilat obsesi yang berbahaya. "Kau tahu apa yang kuinginkan. Kau dan rahasia itu." Lin Mei tertawa hambar. "Rahasia? Rahasia apa yang tersisa setelah kau menghancurkan segalanya?" "Rahasia tentang malam itu. Malam ketika keluargamu... lenyap," bisik Zhao Feng, setiap kata adalah tetesan bisa. Kilatan amarah membakar mata Lin Mei. Darah di salju. Air mata di antara dupa. Janji di atas abu. Semua kenangan itu kembali menghantuinya. Malam itu, malam yang seharusnya menjadi awal dari kebahagiaannya, berubah menjadi neraka yang abadi. Keluarganya dibantai, dan Zhao Feng... Zhao Feng berdiri di sana, membiarkan semuanya terjadi. "Kau!" teriak Lin Mei, suaranya memecah kesunyian. "Kau yang melakukannya! Kau yang membunuh mereka!" Zhao Feng hanya tersenyum. Senyum yang membuat darah Lin Mei mendidih. "Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan. Mereka menghalangi jalanku." Pertarungan pun terjadi. Bukan hanya pertarungan fisik, tapi juga pertarungan batin yang lebih dahsyat. Cinta dan kebencian berbaur menjadi koktail mematikan, setiap pukulan adalah ungkapan dari perasaan yang tak terucap. Pada akhirnya, Lin Mei berhasil melumpuhkan Zhao Feng. Ia berdiri di atasnya, napasnya terengah-engah, matanya penuh amarah dan kesedihan. "Kenapa?" tanyanya, suaranya bergetar. "Kenapa kau melakukan semua ini?" Zhao Feng tertawa lemah. "Karena aku mencintaimu, Mei'er. Aku ingin memiliki segalanya. Termasuk kau." Lin Mei menggelengkan kepalanya. Cinta macam apa ini? Cinta yang menghancurkan, yang membunuh. "Cinta yang kau tawarkan adalah racun," desisnya. Kemudian, dengan gerakan cepat, ia mencabut tusuk konde peraknya. Bukan tusuk konde biasa. Itu adalah warisan dari ibunya, tusuk konde yang telah diasah menjadi senjata mematikan. Ia menatap Zhao Feng, matanya sedingin es. "Aku sudah lama menunggu saat ini." Balas dendam yang tenang namun mematikan. Balasan dari hati yang terlalu lama menunggu. Lin Mei menancapkan tusuk konde itu ke jantung Zhao Feng. Tidak ada teriakan. Hanya desahan lemah dan kemudian keheningan abadi. Lin Mei berdiri di sana, di tengah salju yang berlumuran darah, di antara dupa yang membara, di atas abu dari janji yang dilanggar. Ia telah mendapatkan balas dendamnya. Tapi... apakah itu sepadan? Di kejauhan, lolongan serigala memecah kesunyian malam. **Malam ini, kematian datang menjemput, dan ia belum selesai.**
You Might Also Like: 124 Clove Tea Benefits Clove Oil

OlderNewest

Post a Comment