Cerita Populer: Takhta Yang Dihuni Bayangan Lama

**Takhta yang Dihuni Bayangan Lama** Lentera istana berayun lemah, memantulkan cahaya remang di wajah Kaisar Xuan Wu. Wajah yang dulu dipuja rakyat dengan senyum ramah, kini hanya lekukan pahit yang diukir penyesalan. Di hadapannya, berdiri Li Mei, wanita yang seharusnya menjadi permaisurinya, wanita yang telah dirampas takdir dan ambisi keji. Dulu, di bawah pohon *wisteria* yang sama, mereka berjanji. Janji abadi, janji untuk membangun kekaisaran bersama, janji yang diucapkan dengan hati penuh cinta dan keyakinan. Xuan Wu, seorang pangeran muda yang idealis, dan Li Mei, putri seorang jenderal yang setia. Mereka adalah sepasang burung bangau yang ditakdirkan terbang bersama. "Mei'er…" suara Xuan Wu bergetar, lebih mirip bisikan angin daripada dekrit kaisar. "Maafkan aku." Li Mei mengangkat wajahnya, matanya setenang danau yang dalam, namun sedingin es di puncak gunung. "Maaf? Untuk apa, Yang Mulia? Untuk pengkhianatan? Untuk janji yang kau injak-injak demi kekuasaan? Atau untuk fakta bahwa kau membunuh keluargaku, hanya karena mereka dianggap ancaman bagi takhtamu?" Setiap kata Li Mei adalah anak panah yang menancap di jantung Xuan Wu. Ia memejamkan mata, membayangkan kembali malam kelabu itu. Malam ketika ia, di bawah pengaruh para penasihat licik, menandatangani surat perintah eksekusi untuk keluarga Li Mei. Malam ketika ia kehilangan segalanya. "Aku… aku dibutakan ambisi. Aku percaya aku melakukannya demi kekaisaran. Tapi… aku salah. Aku sangat salah," bisik Xuan Wu, suaranya nyaris tak terdengar. Li Mei tertawa hambar, tawa tanpa kebahagiaan, tawa yang lebih mirip ratapan. "Demi kekaisaran? Atau demi *TAKHTA* yang kau puja di atas segalanya? Lihatlah dirimu, Xuan Wu. Kau duduk di atas takhta yang didirikan di atas tulang-belulang orang-orang yang kau cintai. Kau memerintah kerajaan yang dibangun di atas air mata dan darah. APAKAH INI KEKUASAAN YANG KAU INGINKAN?!" Xuan Wu membuka mata, menatap Li Mei dengan tatapan memohon. "Aku tahu aku tidak pantas dimaafkan. Tapi, kumohon, biarkan aku melakukan sesuatu untuk menebus kesalahanku. Biarkan aku memberimu apa pun yang kau inginkan." Li Mei tersenyum tipis. Senyum yang tidak mencapai matanya. "Terlambat, Yang Mulia. Terlalu terlambat. Apa yang kau renggut dariku, tidak bisa dikembalikan lagi. Kebahagiaanku, keluargaku, hidupku… Semuanya sudah *HANCUR*." Kemudian, tanpa sepatah kata pun, Li Mei berbalik dan berjalan pergi. Xuan Wu hanya bisa menatap punggungnya yang menjauh, punggung yang dulu membuatnya berdebar, kini membuatnya merasa ngeri. Ia tahu, di dalam hatinya, bahwa inilah akhir dari segalanya. Beberapa bulan kemudian, Xuan Wu ditemukan tewas di singgasananya. Kematiannya misterius, tanpa tanda-tanda kekerasan. Rakyat berbisik tentang kutukan dewa. Para pejabat menduga konspirasi. Namun, hanya Li Mei yang tahu kebenarannya. Pelan-pelan, selama berbulan-bulan, ia meneteskan racun ke dalam anggur Kaisar, racun yang tidak akan meninggalkan jejak. Balas dendamnya halus, tak terlihat, namun MEMATIKAN. Takhta yang dulu diperebutkan dengan darah, kini menjadi kuburan sunyi bagi seorang Kaisar yang terlambat menyesal. Keadilan telah ditegakkan, bukan dengan pedang, bukan dengan pemberontakan, melainkan dengan tangan takdir yang dipandu oleh hati yang hancur. *** Cinta dan dendam berdansa di atas pusara ingatan, menciptakan melodi pahit yang takkan pernah usai.
You Might Also Like: Reseller Kosmetik Bisnis Tanpa Stok

OlderNewest

Post a Comment