Bikin Penasaran: Tangisan Yang Mengguncang Takdir

**Tangisan yang Mengguncang Takdir** Hujan gerimis membasahi paviliun bambu, seolah ikut merasakan duka di hati Lianhua. Di hadapannya, berdiri tegak Zhongyi, punggungnya menghadap, bahunya sedikit bergetar. Aroma dupa cendana bercampur dengan bau tanah basah, menciptakan suasana ***pilu*** yang mencekik. "Zhongyi…," bisik Lianhua, suaranya serak. Sepuluh tahun telah berlalu sejak hari itu. Sepuluh tahun ia memendam cinta, menyaksikan Zhongyi menikahi wanita lain, menjabat sebagai jenderal, dan menumpuk kekayaan. Sepuluh tahun ia menelan pil pahit pengkhianatan. Zhongyi berbalik perlahan. Wajahnya yang dulu gagah kini dipenuhi kerutan dan guratan penyesalan. Matanya yang dulu berbinar penuh cinta, kini redup dan sarat kesedihan. "Lianhua… aku…" Zhongyi terbata, suaranya tenggelam dalam desau angin. Lianhua mengangkat tangannya, menghentikan ucapan Zhongyi. Jari-jarinya yang lentik, dulu biasa menyulam benang sutra, kini memegang erat sebuah jepit rambut perak berbentuk bunga teratai. Jepit rambut itu, pemberian Zhongyi di malam bulan purnama belasan tahun lalu. Malam yang dijanjikannya akan menjadi milik Lianhua seorang. "Dulu, kau berjanji akan membawaku melihat bintang di Puncak Tian Shan," ujar Lianhua, suaranya pelan namun menusuk. "Kau berjanji akan melindungiku dari segala bahaya. Kau berjanji akan… mencintaiku **selamanya**." Zhongyi memejamkan mata. Janji itu, kini terasa seperti belati yang menusuk jantungnya. "Aku… aku tidak punya pilihan, Lianhua. Aku harus… demi keluarga, demi kehormatan…" Lianhua tertawa getir. Tawa tanpa kebahagiaan, hanya kepedihan yang terpendam. "Kehormatan? Keluarga? Lalu, di mana kehormatanmu saat kau menginjak-injak hatiku? Di mana keluargamu saat aku terpaksa hidup dalam bayang-bayang, **terlupakan**?" Air mata mulai mengalir di pipi Lianhua. Bukan air mata kesedihan semata, melainkan air mata amarah, air mata pengkhianatan, air mata **penderitaan**. Air mata yang selama sepuluh tahun ini ia telan seorang diri. Zhongyi berlutut di hadapan Lianhua, meraih tangannya. "Maafkan aku, Lianhua. Aku tahu aku telah menyakitimu. Aku bersedia melakukan apapun untuk menebus kesalahanku. Sebutkan saja, apa yang kau inginkan?" Lianhua menatap Zhongyi, tatapannya dingin dan menusuk. Di matanya, tak ada lagi cinta. Hanya kekosongan dan… rencana yang matang. "Kau bertanya apa yang kuinginkan?" bisik Lianhua, mendekatkan bibirnya ke telinga Zhongyi. "Aku hanya ingin kau merasakan… **KEHILANGAN**." Beberapa bulan kemudian, tersiar kabar bahwa keluarga Jenderal Zhongyi jatuh dalam kemiskinan, dihina dan dicampakkan masyarakat. Usaha dagang mereka bangkrut, tanah dan rumah mereka disita. Istri dan anak-anaknya menderita kelaparan dan penyakit. Zhongyi sendiri, ditemukan tewas di tepi sungai, jasadnya mengenaskan. Tidak ada yang tahu pasti penyebab kematiannya. Rumor yang beredar mengatakan, ia bunuh diri karena tak sanggup menanggung malu dan penderitaan. Lianhua berdiri di puncak bukit, memandang ke arah kota yang dulu menjadi saksi bisu cintanya. Di tangannya, tergenggam jepit rambut perak berbentuk bunga teratai. Hatinya terasa kosong, namun ada sedikit rasa puas yang menyelinap. *Bukan aku yang membalas dendam. Takdir yang menuntut keadilan.* Apakah ini akhir dari kisah cinta yang tragis, ataukah awal dari babak baru yang dipenuhi dendam membara?
You Might Also Like: 188 Longines Dolcevita 235Mm L55125707

OlderNewest

Post a Comment