## Aku Bersembunyi di Balik Jas Mahal, Tapi Kau Melihat Hatiku yang Hancur Hujan mengetuk jendela apartemenku, ritmenya senada dengan dentuman *sepi* di dadaku. Aroma kopi memenuhi ruangan, pahit seperti kenangan tentangmu yang tak pernah benar-benar pergi. Jas *Armani* tergantung di sandaran kursi, pelindung dari dunia, topeng yang menyembunyikan hati yang hancur. Notifikasi ponselku berkedip. Bukan pesan darimu. Sudah berapa lama? Bulan? Tahun? Aku menatap sisa percakapan kita yang belum terkirim. Kata-kata yang mengendap dalam draft, seperti debu di sudut ruang hati. Kata-kata yang berteriak, "*Aku merindukanmu!*" Tapi bibirku bisu. Kita bertemu di tengah hiruk pikuk kota. Pertemuan yang kebetulan, atau mungkin takdir yang sedang bercanda. Kamu, dengan senyum *mentari* dan mata yang bisa melihat menembus dinding pertahananku. Kamu melihatku, *benar-benar* melihatku, di balik jas mahal dan tatapan dingin. Kita berbagi mimpi, tawa, dan rahasia di bawah *hujan* kota. Aroma kopi menjadi saksi bisu setiap pertemuan. Setiap *notifikasi* darimu dulu adalah melodi terindah. Tapi semua itu berakhir, *tanpa penjelasan*. Kau menghilang, meninggalkan luka yang menganga. Seperti aplikasi yang di-uninstall, meninggalkan data-data yang korup. Aku mencoba menghapusmu, memblokirmu, melupakanmu. Tapi bayanganmu selalu menghantuiku, seperti *cache* yang tak bisa dibersihkan. Aku mendengar bisikan tentangmu. Kabar tentang *kebahagiaan* yang kau temukan dengan orang lain. Aku tahu, aku seharusnya senang. Tapi senyumku terasa pahit. Aku terus bertanya, *mengapa*? Malam ini, rahasia itu terungkap. Pesan dari nomor tak dikenal. Foto. Kamu. Bersama orang lain. *Rahasia yang selama ini kau simpan rapi.* Amarah membara dalam diriku. Tapi aku bukan tipe orang yang berteriak atau mengamuk. Aku bukan tipe orang yang mencari keributan. Aku akan membalas dendam dengan cara yang lebih *elegan*. Aku mengetik pesan terakhir. Jari-jariku gemetar, tapi hatiku *bulat*. Pesan itu singkat. Padat. Menghancurkan. Kukirimkan. Ponselku terdiam. Aku menatap pantulan diriku di jendela. Senyum tipis menghiasi bibirku. Senyum seorang pemenang. Senyum seorang yang telah melepaskan. Aku mengambil jas Armani-ku. Memakainya. Aku keluar. Meninggalkan semuanya. *Semua*. Hujan masih turun. Tapi kali ini, aku tidak merasa dingin. Aku merasa... *bebas*. Keputusanku final. Tidak ada lagi *kesempatan kedua*. Tidak ada lagi penyesalan. Aku berjalan menyusuri jalanan kota, meninggalkanmu dalam sisa-sisa kenangan yang *memudar*. Dan di akhir cerita ini, kau hanya mendapatkan... …kebisuan.
You Might Also Like: 59 Kekurangan Produk Skincare Lokal

Post a Comment