Baiklah, ini dia kisah dracin dengan judul 'Kau Memegang Tanganku di Balik Tirai, Sementara Dunia Bersorak Atas Kebohongan', dalam bahasa Indonesia: **Kau Memegang Tanganku di Balik Tirai, Sementara Dunia Bersorak Atas Kebohongan** Aula Emas Istana Naga Putih berkilauan, diterangi ribuan lilin yang menari-nari. Di tengahnya, Kaisar Xuan berpidato, suaranya menggema di antara pilar-pilar giok. Namun, mataku hanya tertuju pada satu sosok: Permaisuri Lian, berdiri anggun di sisi tahta, senyumnya bagai topeng sutra yang menutupi badai di dalam hatinya. Dulu, kami berdua hanyalah anak-anak yang bermain di taman belakang istana. Dia, putri seorang selir yang terlupakan; aku, pangeran yang diasingkan. Kami menemukan cinta di balik bayang-bayang istana, sebuah dunia di mana kejujuran adalah kemewahan. Perlahan, *CINTA* kami tumbuh, terlarang dan berbahaya. Aku berjanji akan melindunginya, membawanya bersamaku ke puncak kekuasaan. Tapi janji di istana adalah pedang bermata dua. "Xuan'er," bisiknya suatu malam di balik tirai sutra yang memisahkan kamar kami. Jari-jarinya yang halus menggenggam tanganku erat. "Kau tahu, bukan? Bahwa tahta ini... membutuhkan pengorbanan." Aku tahu. Aku tahu persis apa yang ia minta. Tahta membutuhkan *DARAH*, dan darah itu haruslah darah orang yang paling dekat denganku – saingan-sainganku, pengkhianat di antara para pejabat, dan ya, bahkan orang-orang yang mencintaiku. Aku menjadi Kaisar, seperti yang kami rencanakan. Lian menjadi Permaisuri, seperti yang ia impikan. Tapi setiap malam, saat aku menggenggam tangannya di balik tirai, aku merasakan hawa dingin menggerogoti tulangku. Kebohongan-kebohongan yang kami ciptakan, sorak sorai rakyat yang dibutakan oleh propaganda, semuanya terasa hambar. Intrik merajalela. Tatapan tajam para pejabat seolah menelanjangi setiap kebohongan kami. Bisikan pengkhianatan terdengar di setiap sudut istana. Aku tahu, cepat atau lambat, tirai kebenaran akan tersingkap. Dan kemudian, saat aku lengah, saat aku terlalu percaya diri dengan kendaliku, Lian bergerak. Racun itu tanpa rasa, tanpa warna. Diberikan dengan senyum manis dan ciuman perpisahan. "Aku melakukan ini untukmu, Xuan'er," bisiknya, napasnya terasa dingin di leherku. "Kau terlalu lemah untuk memimpin." Aku merasakan nyawaku direnggut perlahan. Di matanya, aku melihat bukan lagi cinta, melainkan perhitungan dingin dan ambisi tak terbatas. Semua pengorbanan yang kulakukan, semua kebohongan yang kurangkai, sia-sia belaka. Aku hanyalah pijakan baginya menuju kekuasaan *MUTLAK*. Saat kegelapan menyelimuti, aku mendengar suara langkah kaki mendekat. Itu adalah Jenderal Zhao, panglima perang setia yang selama ini kuanggap bonekaku. Wajahnya tegang, matanya berkilat marah. "Yang Mulia Permaisuri," desisnya, suaranya rendah dan berbahaya. "Kau telah salah menilai kesetiaanku." Lian tertawa sinis. "Apa yang bisa kau lakukan? Aku sekarang adalah Kaisar!" Jenderal Zhao hanya tersenyum pahit. "Kau lupa, Yang Mulia. Sebelum aku menjadi Jenderalmu, aku adalah... suami Putri Meiying, adik perempuan Kaisar Xuan yang *KAU* bunuh dengan keji." Di detik terakhirku, aku melihat Jenderal Zhao mencabut pedangnya. Balas dendam, manis dan mematikan, akhirnya tiba. Lian menjerit, suaranya memecah kesunyian malam. Dan di balik tirai sutra, sebuah era berakhir… dan sejarah baru saja menulis ulang dirinya sendiri.
You Might Also Like: Discover City View Elementary Where

Post a Comment