Dracin Populer: Langit Yang Menyaksikan Pengkhianatan Pertama

## Langit yang Menyaksikan Pengkhianatan Pertama Hujan kota Jakarta berbisik lirih di balik jendela apartemen Ji Eun. Tetesnya menari di kaca, mengaburkan lampu-lampu jalan yang menyala seperti kunang-kunang yang kesepian. Aroma kopi pahit mengepul dari cangkir di mejanya, hanya menambah kelam suasana hatinya. Di layar ponselnya, percakapan terakhir dengan Han Joon terhenti. *Terakhir aktif satu minggu lalu.* Ji Eun menghela napas. Dulu, notifikasi darinya adalah melodi terindah. Sekarang, hanya deretan piksel menyakitkan yang mengingatkannya pada _janji_ yang diucapkan di bawah **LANGIT** yang sama. Langit yang kini menjadi saksi bisu **PENGKHIANATAN**. Hubungan mereka dimulai dari notifikasi tak terduga. Salah tag di Instagram, lalu berlanjut ke obrolan tengah malam yang membahas mimpi-mimpi bodoh dan ketakutan yang mendalam. Han Joon, dengan senyumnya yang menenangkan dan kalimat-kalimat puitisnya, terasa seperti jawaban atas semua kesepiannya. Kenangan mereka tersimpan rapi di *cloud*, album digital yang dipenuhi tawa, ciuman curian di tengah keramaian, dan janji untuk selamanya. Tapi selamanya ternyata punya batas waktu. Perasaan kehilangan itu merayap perlahan, seperti kabut yang menutupi cakrawala. Mulanya hanya penundaan janji bertemu, lalu balasan pesan yang semakin singkat, dan akhirnya, _keheningan_ yang memekakkan telinga. Ji Eun mencoba menelepon, mengirim pesan, bahkan mengunjunginya di kantor, tapi Han Joon seolah menghilang ditelan bumi. Sisa *chat* yang tak terkirim memenuhi *draft* ponselnya. Curahan hati, pertanyaan yang belum terjawab, dan harapan yang perlahan meredup. Ia ingin berteriak, menangis, atau bahkan marah, tapi yang keluar hanya kebingungan dan ketidakpercayaan. Apa yang sebenarnya terjadi? Misteri ini mulai terkuak saat ia tidak sengaja menemukan sebuah foto. Sebuah foto yang tersembunyi di dalam folder terenkripsi di laptop Han Joon. Di foto itu, Han Joon tersenyum, memeluk wanita lain, di sebuah pantai di Bali. *Wanita itu memegang buket bunga yang persis sama dengan yang diberikan Han Joon padanya di hari jadi mereka.* **Rahasia** itu memukulnya seperti tsunami. Semua kepingan *puzzle* akhirnya menyatu, membentuk gambar yang mengerikan. Pengkhianatan. Kebohongan. Kepalsuan. Cinta yang ia kira **NYATA** ternyata hanya _sandiwara_. Luka menganga di hatinya, tapi di balik air mata, benih balas dendam mulai tumbuh. Bukan balas dendam yang keji, bukan teriakan kemarahan, tapi sesuatu yang lebih halus, lebih elegan. Ji Eun menghapus semua foto Han Joon dari ponselnya. Ia memblokir semua akun media sosialnya. Ia membuang semua barang pemberiannya. Lalu, ia menulis sebuah pesan singkat, pesan terakhir, yang dikirimkannya tepat tengah malam. *“Terima kasih atas pelajarannya. Aku harap kamu bahagia.”* Ia tersenyum tipis, senyum terakhir yang didedikasikan untuk pria yang pernah mengisi hari-harinya dengan warna. Ia melangkah keluar dari apartemennya, menuju masa depan yang baru, meninggalkan semua kenangan pahit di belakangnya. Matahari pagi menyambutnya dengan sinarnya yang hangat. Ji Eun menarik napas dalam-dalam, merasakan angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya. Ia sudah memutuskan. Ia akan pergi. Ia akan memulai hidup baru di kota lain, jauh dari semua kenangan yang menyakitkan. Ia menoleh sekali lagi ke arah apartemennya, lalu berbalik dan berjalan pergi. Tanpa kata. Tanpa air mata. Hanya sebuah tekad yang membara di dalam hatinya. *Dan dia menghilang, meninggalkan jejak yang tak akan pernah bisa dihapus...*
You Might Also Like: 184 Adhelvia Hamonsina Adhelviah Best

OlderNewest

Post a Comment