**Tangisan yang Menjadi Alunan Pembalasan** Lorong istana menggema sunyi. Kabut tipis merayapi lantai marmer dingin, menelan cahaya obor yang berkedip lemah. Di ujung lorong, berdiri sosok yang tak asing. *Lin Yue*. Dulu, ia dikenal sebagai putri kesayangan Kaisar, kini, ia hanya bayangan yang kembali dari kematian. Lima belas tahun lalu, ia dinyatakan tewas dalam kebakaran misterius yang meluluhlantakkan kediamannya. Kaisar, hancur hatinya. Permaisuri, meratapi kehilangan putri tercinta. Namun, di balik duka itu, Lin Yue *HIDUP*. Ia dilatih dalam kegelapan, diasah menjadi pedang keadilan yang tersembunyi. "Kakak Permaisuri," sapa Lin Yue, suaranya selembut sutra, namun setajam pisau. Permaisuri, yang berdiri membelakanginya, berbalik perlahan. Wajahnya yang dahulu anggun kini dipenuhi kerutan dan aura kejam yang menakutkan. "Yue'er? Mustahil..." bisik Permaisuri, matanya membulat. Lin Yue tersenyum tipis. "Mustahilkah? Atau hanya sesuatu yang ***tidak*** Anda duga?" "Apa maumu, Yue'er? Kau sudah mati!" Permaisuri menggertakkan gigi. "Mati? Tidak, Kakak. Saya hanya tidur panjang, menunggu saat yang tepat untuk *MENGADILI*." Kabut semakin tebal, menutupi sebagian wajah Lin Yue. Ia melangkah mendekat, setiap langkahnya menggema bagai dentang lonceng kematian. "Kau tahu, Kakak, api itu tidak membunuhku. Justru melahirkanku kembali. Kebenaran yang Anda sembunyikan, racun yang Anda berikan kepada Ayahanda, semua akan terungkap." Permaisuri tertawa sinis. "Kau pikir ada yang akan percaya padamu? Kau hanyalah hantu masa lalu! Tidak ada yang akan mendengarkan *OMONG KOSONGMU*!" Lin Yue berhenti tepat di hadapan Permaisuri. Ia meraih liontin giok yang tergantung di leher Permaisuri, liontin yang sama persis dengan yang ia kenakan saat kebakaran. Liontin yang menjadi *BUKTI*. "Liontin ini... adalah awal dari segalanya. Ingatkah Anda, Kakak? Anda sendiri yang memberikannya padaku, tepat sebelum api itu melahapku. Anda *YAKIN* aku mati." Mata Permaisuri memancarkan ketakutan. Ia berusaha merebut liontin itu, namun Lin Yue terlalu cepat. "Maafkan aku, Kakak. Tapi, waktu untuk sandiwara telah usai. Tangisan yang dahulu Anda kira adalah ratapan kesedihan, ternyata adalah *ALUNAN PEMBALASAN* yang sedang menanti untuk didengar seluruh istana." Lin Yue mengangkat tangannya. Para penjaga, yang selama ini bersembunyi dalam bayangan, keluar dan mengepung Permaisuri. Mereka adalah mata-mata yang setia pada Lin Yue, menunggu perintah. Permaisuri menatap Lin Yue dengan tatapan penuh kebencian. "Kau... kau *MENIPUKU* sejak awal?!" Lin Yue tersenyum, senyum yang tidak mencerminkan kebahagiaan, melainkan kepahitan dan kemenangan yang dingin. "Tentu saja. Siapa bilang korban tidak bisa menjadi dalang?" ***Kebohongan terbesar adalah saat kita percaya bahwa yang terluka adalah yang paling lemah, padahal merekalah yang paling pintar dalam menyembunyikan rencana...***
You Might Also Like: Diskon Skincare Lokal Berkualitas

Post a Comment