## Air Mata yang Menjadi Saksi Balasan Hujan luruh di atas nisan marmer, serupa air mata yang tak pernah selesai jatuh. Di dunia arwah, waktu terasa seperti _benang kusut_, terurai perlahan namun tak pernah benar-benar terputus. Lin Mei, atau dulunya Lin Mei, berdiri di sana. Bayangannya menolak pergi, melekat pada dunia yang dulu pernah menjadi miliknya. Kehidupan yang direnggut, kebenaran yang tak sempat terucap, semua mengikatnya. Dunia arwah adalah tempat sunyi yang ***indah***. Cahaya rembulan menembus kabut tipis, melukis siluet pepohonan purba. Tapi Lin Mei tak merasakan keindahan itu. Hatinya, atau sisa-sisa hatinya, dipenuhi beban yang tak tertanggungkan. Ia kembali bukan untuk menakut-nakuti, bukan untuk membalas dendam. Ia kembali untuk mencari… _kedamaian_. Dulu, sebelum kematian menjemputnya di malam badai itu, Lin Mei menyimpan rahasia. Rahasia tentang perjanjian gelap, tentang pengkhianatan yang mematikan, tentang cinta yang dibalas dengan dusta. Ia ingin mengungkapnya, namun kata-kata itu terhenti di kerongkongan. Sekarang, ia harus menggunakan cara lain. Ia mengembara di antara dunia, menyusup ke dalam mimpi orang-orang yang terlibat dalam tragedi itu. Bisikannya bagai angin malam, dingin dan menusuk. Ia menampakkan diri dalam kilatan cahaya, dalam pantulan cermin yang berdebu. Ia bukan hantu yang menakutkan, tapi saksi bisu yang menuntut keadilan. Xiao Chen, tunangannya, kini diliputi kegelisahan. Ia sering terbangun di tengah malam, merasa diawasi. Ia melihat Lin Mei dalam setiap bayangan, mendengar suaranya dalam setiap hembusan angin. Rasa bersalah menggerogoti jiwanya, perlahan tapi pasti. Lin Mei *terus* mengikutinya, membimbingnya, atau mungkin lebih tepatnya, menghantuinya. Ia membawanya ke tempat-tempat penting dalam hidup mereka: taman tempat mereka pertama kali bertemu, jembatan tempat ia melamarnya, dan akhirnya, gudang tua tempat ia menghembuskan nafas terakhirnya. Di gudang itu, Xiao Chen *akhirnya* mengerti. Ia melihat kilasan masa lalu, seperti film yang diputar ulang. Ia melihat dirinya sendiri, wajahnya dipenuhi amarah dan kebencian. Ia melihatnya menikam Lin Mei, mengakhiri hidupnya dengan keji. Air mata Xiao Chen mengalir deras, membasahi lantai yang berdebu. Ia mengaku, mengakui segala perbuatannya di hadapan roh Lin Mei. Pengakuan yang terlambat, tapi cukup untuk membebaskan jiwanya. Saat matahari terbit, cahaya keemasan menerobos masuk melalui celah-celah gudang. Lin Mei merasakan beban di dadanya berangsur-angsur menghilang. Ia melihat Xiao Chen dihantui rasa bersalah seumur hidup, hukuman yang lebih berat daripada kematian itu sendiri. Ia tak menginginkan lebih dari itu. Ia telah menuntaskan apa yang tertinggal. Bukan balas dendam, tapi pengungkapan kebenaran. Kedamaian… itu yang ia cari. *Cahaya itu semakin memudar, dan ia pun menghilang, seolah berbisik, "Akhirnya…" *
You Might Also Like: Drama Baru Aku Menolak Takdir Tapi Tak

Post a Comment