Absurd tapi Seru: Aku Mencintaimu Cukup Untuk Membiarkanmu Bahagia Tanpa Aku

Baiklah, ini dia kisah modern Dracin yang kamu minta: **Aku Mencintaimu Cukup untuk Membiarkanmu Bahagia Tanpa Aku** Hujan kota jatuh, mencuci aspal dan kenangan. Di dalam apartemen mungilnya, Lin Yi menatap layar ponsel. Notifikasi dari grup chat kantor terus berdatangan, tapi matanya terpaku pada satu nama: **ZHOU WEI.** Dulu, nama itu adalah melodi di harinya. Aroma kopi pahit yang selalu mereka pesan bersama, *obrolan larut malam* tentang mimpi yang (katanya) akan mereka rajut bersama, dan emoji konyol yang saling mereka kirimkan. Semuanya terasa begitu *NYATA*, sampai akhirnya... menghilang. Hilang seperti sinyal di lift gedung tua, atau seperti saldo di akhir bulan. Lin Yi menggeser ke atas, menelusuri percakapan mereka. Pesan-pesan Zhou Wei yang dulu penuh canda kini hanya menjadi *sisa-sisa digital*, hantu dari cinta yang tak terucapkan dengan lantang. Ada satu *draft pesan* yang tak pernah terkirim, tersimpan di sana selama berbulan-bulan: *"Zhou Wei, apa kau bahagia?"* Pertanyaan sederhana yang membakar hatinya setiap kali ia melihatnya. Pertanyaan yang tak pernah berani ia kirimkan, karena ia takut jawabannya. Takut jika kebahagiaan Zhou Wei ternyata ada di tempat lain, bukan bersamanya. Mereka bertemu di aplikasi kencan. Pertemuan yang klise, namun membakar. Zhou Wei dengan senyumnya yang menawan dan mata teduhnya, langsung menawan hati Lin Yi. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam berbicara tentang segalanya dan tidak sama sekali. Tentang ambisi, ketakutan, bahkan tentang kucing tetangga yang selalu mencuri ikan asinnya. Namun, kebahagiaan itu rapuh. Seperti jaringan *Wi-Fi* yang putus-putus. Zhou Wei semakin menjauh. Alasannya selalu sama: pekerjaan, deadline, meeting yang tak berkesudahan. Lin Yi mulai merasakan *kehilangan* yang samar. Perasaan seperti kehilangan kunci rumah, atau seperti lupa membawa *charger* ponsel saat sedang membutuhkan. Menyakitkan, namun tak sampai membuat sesak napas. Misteri itu terkuak suatu malam. Lin Yi tanpa sengaja melihat Zhou Wei berjalan bergandengan tangan dengan seorang wanita di taman kota. Wanita itu tertawa, dan Zhou Wei membalasnya dengan senyum yang sama seperti yang dulu selalu ia berikan kepada Lin Yi. Hati Lin Yi hancur berkeping-keping. Seperti *screen protector* yang pecah saat terjatuh. Namun, di saat itulah, ia menemukan kekuatan. Kekuatan untuk melepaskan. Kekuatan untuk membiarkan Zhou Wei bahagia, meskipun tanpa dirinya. Rahasia yang selama ini Zhou Wei sembunyikan, akhirnya terungkap. Zhou Wei sudah memiliki *tunangan*. Pertunangan yang diatur keluarga. Kebahagiaan yang *diwajibkan*, bukan dipilih. Malam itu, Lin Yi menghapus semua foto Zhou Wei dari ponselnya. Memblokir nomornya. Menghapus semua *jejak digital* Zhou Wei dari hidupnya. *** Balas dendamnya? Sebuah pesan yang ia posting di *Instagram Story*: foto dirinya tersenyum lebar, dengan *caption* singkat: "**Moving on. Finally.**" Dan, kemudian… *Senyum terakhir.* Beberapa bulan kemudian, Lin Yi tidak sengaja bertemu dengan Zhou Wei di sebuah kafe. Zhou Wei terlihat lebih kurus, dan matanya kehilangan cahayanya. Ia menyapa Lin Yi dengan canggung, dan bertanya, "Bagaimana kabarmu?" Lin Yi membalas dengan senyum tulus. "Aku baik-baik saja, Zhou Wei. Sangat baik." Ia lalu berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Zhou Wei dengan tatapan kosong. Ia tahu, ia telah membuat pilihan yang tepat. Keputusannya menutup segalanya tanpa kata. Tanpa drama. Tanpa penyesalan. *** Hujan masih turun. Lin Yi menyesap kopinya, dan merasakan kedamaian yang aneh. Ia tahu, Zhou Wei akan selalu menjadi bagian dari masa lalunya. Bagian dari kenangan yang tak bisa dihapus. Namun, ia juga tahu, ia berhak bahagia. Berhak dicintai dengan sepenuh hati. Berhak memilih kebahagiaannya sendiri. Dan, mungkin, di suatu tempat di luar sana, ada seseorang yang akan mencintainya cukup untuk tidak pernah membiarkannya pergi. Namun, untuk saat ini… … *hening yang membisu.*
You Might Also Like: Arti Mimpi Memelihara Tokek Ternyata

OlderNewest

Post a Comment