Baiklah, inilah kisah dracin intens berjudul 'Bayangan yang Menjadi Cahaya Penuntun' yang saya buat: **Bayangan yang Menjadi Cahaya Penuntun** Malam di Pegunungan Salju Abadi bagai *pedang* yang membeku. Angin mengiris kulit, menusuk tulang, membawa serpihan salju yang berputar-putar seperti roh-roh penasaran. Di tengah kegelapan yang pekat, obor-obor menari liar, menerangi pelataran kuil yang sunyi. Aroma dupa cendana menyelimuti udara, berbaur dengan bau anyir darah yang membeku di atas salju. Malam ini, segalanya akan terungkap. Li Wei, dengan jubah hitamnya yang berkibar ditiup angin, berdiri tegak di depan altar. Wajahnya yang dingin bagai pahatan es, matanya menyala dengan amarah yang telah lama dipendam. Di hadapannya, terikat di pilar kayu yang lapuk, berdiri Jiang Yue, wanita yang dicintainya sekaligus dibencinya. "Jiang Yue," suara Li Wei bagai desisan ular, rendah dan berbahaya. "Sudah bertahun-tahun. Bertahun-tahun aku menunggu malam ini." Jiang Yue mendongak. Wajahnya pucat pasi, bibirnya bergetar. Air mata mengalir di pipinya, meninggalkan jejak basah di antara kepulan asap dupa. "Li Wei... kumohon... dengarkan aku." "Mendengarkanmu?" Li Wei tertawa sinis. "Aku sudah terlalu banyak mendengar *KEBOHONGANMU*. Aku telah menghabiskan separuh hidupku untuk meratapi kehilangan keluargaku, untuk membalas dendam atas nama mereka. Dan sekarang, kau berdiri di sini, di depanku, wanita yang ternyata menjadi dalang di balik semuanya!" **FLASHBACK** Lima belas tahun lalu. Salju yang sama, kuil yang sama, namun dengan suasana yang jauh berbeda. Li Wei kecil, menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana keluarganya dibantai oleh sekelompok pria bertopeng. Di antara mereka, dia melihat sekelebat sosok wanita. Sosok yang selalu menghantuinya dalam mimpi buruknya. *Janji* di atas abu. Janji yang dia ucapkan di depan makam orang tuanya. Janji untuk menemukan dan menghukum semua yang terlibat. Janji yang membawanya pada Jiang Yue. **KEMBALI KE MASA KINI** "Itu tidak benar!" Jiang Yue terisak. "Aku tidak ingin keluargamu terluka. Aku... aku dijebak! Ayahku... dia yang memerintahkan semua ini." Li Wei maju selangkah, mencengkeram dagu Jiang Yue dengan kasar. "Ayahmu sudah lama mati. Dan kau, kau mewarisi kejahatannya. CINTA yang kurasakan padamu hanyalah *DUSTA!*" Jiang Yue menatapnya dengan penuh keputusasaan. "Li Wei, percayalah padaku. Aku mencintaimu. Aku tidak pernah ingin menyakitimu." Li Wei terdiam sesaat. Dia menatap mata Jiang Yue, mencoba mencari kebenaran di sana. Namun, yang dia lihat hanyalah bayangan masa lalu, bayangan pengkhianatan dan kematian. "Terlambat," bisiknya. "Semua sudah terlambat." Dia meraih belati perak yang tergantung di pinggangnya. Cahaya obor menari-nari di bilah tajamnya, membuatnya terlihat seperti taring iblis. "Aku bersumpah di depan langit dan bumi," kata Li Wei dengan suara bergetar, "bahwa aku akan membalas dendam atas nama keluargaku. Darah harus dibayar dengan darah." Dengan gerakan cepat dan tanpa ragu, Li Wei menusukkan belati itu ke jantung Jiang Yue. Wanita itu menjerit, lalu terdiam. Tubuhnya merosot lemas di pilar kayu. Darah membasahi salju, menodai kesucian kuil. Li Wei mencabut belatinya. Matanya kosong. Kebenciannya telah terpenuhi, namun hatinya terasa hampa. Dia telah membunuh wanita yang dicintainya. Dia telah menjadi monster yang selama ini dia benci. Dia menatap mayat Jiang Yue untuk terakhir kalinya. Lalu, dia berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan kuil yang berlumuran darah itu dalam kesunyian malam. Balas dendam telah ditunaikan. Namun, *balasan* yang sesungguhnya baru saja dimulai. Hati Li Wei telah membeku, dan dia akan hidup dengan bayangan Jiang Yue selamanya. Tapi di balik punggungnya, sesuatu bergerak. Seseorang dengan jubah hitam mengawasi Li Wei pergi. Orang itu tersenyum dingin, senyum yang lebih mematikan dari kematian itu sendiri, lalu berbisik, "Giliranmu sekarang, *Anak Pembantai*."
You Might Also Like: 185 Animal Edventure Park And Animal
Post a Comment