Endingnya Gini! Kau Memegang Tanganku Di Balik Tirai, Sementara Dunia Bersorak Atas Kebohongan

Oke, inilah dracin pendek yang kamu minta, dengan penekanan pada elemen-elemen yang kamu sebutkan: **Kau Memegang Tanganku di Balik Tirai, Sementara Dunia Bersorak Atas Kebohongan** Aroma dupa cendana memenuhi ruangan. Li Hua menyipitkan mata, menatap ukiran naga di pilar istana yang terasa ***FAMILIAR***. Namun, ia tidak tahu kenapa. Ia hanyalah seorang pelukis istana rendahan, bukan putri bangsawan yang seharusnya hidup dalam kemewahan ini. Namun, mimpi-mimpinya… Mimpinya dipenuhi dengan gaun sutra merah darah, tawa menusuk yang menggema di aula besar, dan **TANGAN** yang memegang erat tangannya di balik tirai beludru. Tangan itu, hangat dan meyakinkan, seolah menjanjikan seluruh dunia. Lalu, mimpi itu berubah menjadi mimpi buruk. Tangan itu melepaskannya, meninggalkannya sendirian di tengah kerumunan yang mencemooh. ***PENGKHIANATAN*** mengalir seperti racun dalam darahnya. Suatu sore, ia diperintahkan melukis potret Kaisar. Saat Kaisar mendekat, jantung Li Hua berdebar tak terkendali. Mata Kaisar, sedalam jurang, menatapnya dengan tatapan yang sama… tatapan yang ada dalam mimpinya. "Kau… mengingatkanku pada seseorang," ujar Kaisar, suaranya rendah dan berat. Li Hua membeku. Ia *INGAT*. Di kehidupan sebelumnya, ia adalah selir kesayangan Kaisar, Lin Yue. Mereka saling mencintai, terikat dalam rahasia di tengah intrik istana. Namun, Kanselir Agung, tangan kanan Kaisar, menginginkan kekuasaan lebih. Ia menuduh Lin Yue berkhianat, bekerja sama dengan musuh. Di depan seluruh istana, Kaisar, *dipaksa oleh bukti palsu*, menjatuhkan hukuman mati. Kanselir Agung adalah orang yang memegang tangannya di balik tirai, menjanjikan cinta dan perlindungan, sementara ia mengatur kejatuhannya. Ia telah merebut kekuasaan dengan mengorbankan cinta mereka. Sekarang, ia berdiri di hadapan Kaisar, bukan sebagai selir yang malang, tetapi sebagai pelukis istana yang memiliki keterampilan luar biasa. Ia memegang kuasnya, bukan belati. Balas dendamnya akan *JAUH* lebih halus. Dengan hati-hati, ia mulai melukis. Ia tidak akan meracuni cat, tidak akan menggunakan sihir. Ia hanya akan melukis. Ia akan menangkap ketidakbahagiaan Kaisar dalam setiap sapuan kuas. Ia akan melukis kesepian yang tersembunyi di balik senyum tirani. Ia akan menciptakan potret yang *MENYIKSA* jiwa Kaisar setiap kali ia melihatnya. Potret itu menjadi terkenal di seluruh kekaisaran. Orang-orang memujinya karena keindahannya, tetapi hanya Kaisar yang tahu kebenaran yang tersembunyi di dalamnya. Ia tahu bahwa setiap sapuan kuas adalah pengingat akan dosa-dosanya, akan cintanya yang dikhianati, akan Lin Yue yang tidak akan pernah kembali. Kanselir Agung, melihat penderitaan Kaisar, mencoba menyingkirkan Li Hua. Namun, Kaisar melindunginya, tanpa ia tahu mengapa. Li Hua tidak membunuh Kanselir Agung. Ia tidak menghancurkan kekaisaran. Ia hanya *MENGINGATKAN* mereka setiap hari tentang kebohongan yang dibangun di atas darah dan air mata. Suatu malam, Kaisar memanggil Li Hua ke ruangannya. Potret dirinya terpampang besar di dinding. "Kenapa?" tanya Kaisar, suaranya bergetar. Li Hua menatap matanya, tidak ada amarah, hanya kesedihan yang mendalam. "Karena kau lupa." Ia berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Kaisar terpuruk dalam penyesalan. Ia tahu, meskipun ia tidak membalas dendam dengan darah, ia telah mengubah takdir. Kekaisaran Kaisar akan tumbuh subur, tetapi hatinya akan selalu hancur. Di bawah cahaya bulan yang pucat, Li Hua berbisik pada dirinya sendiri, "Aku akan menunggumu… di musim semi seribu tahun mendatang."
You Might Also Like: 156 4 Best Dapp Frameworks For First

OlderNewest

Post a Comment