Oke, ini dia kisah dracin pendek berjudul 'Janji yang Menjadi Doa Terlarang': **Janji yang Menjadi Doa Terlarang** Lorong istana itu sunyi, sepi, dingin menusuk tulang. Obor-obor redup menari-nari, bayangannya memanjang dan memendek, menciptakan ilusi sosok-sosok yang mengintai. Di kejauhan, suara seruling bambu melantunkan melodi sendu, lagu kematian yang familiar. Ling Xia berdiri di ujung lorong, jubah putihnya berkibar tertiup angin malam. Setelah lima belas tahun dianggap mati, dia kembali. Bukan sebagai pahlawan, tapi sebagai *hantu* dari masa lalu. Di hadapannya, Kaisar Li Wei berdiri tegap, aura kekuasaan terpancar kuat. Wajahnya masih tampan, namun kerutan di sekitar mata mengkhianati beban berat yang dipikulnya. "Ling Xia," bisik Li Wei, suaranya serak. "Aku... aku kira kau sudah..." Ling Xia tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. "Mati? Begitu yang kau harapkan, Yang Mulia?" "Jangan berkata seperti itu! Kau tahu aku... aku selalu merindukanmu." "Merindukanku?" Ling Xia mengangkat sebelah alisnya. "Atau merindukan janji yang kau buat padaku, lima belas tahun lalu? Janji yang menjadi *doa terlarang*?" Suara seruling semakin kencang, memenuhi lorong dengan kesedihan yang mendalam. "Aku... terpaksa," jawab Li Wei, nada suaranya penuh pembelaan. "Kau tahu sendiri, tahta ini... *TAHTA INI* membutuhkan pengorbanan." "Pengorbanan?" Ling Xia melangkah mendekat, tatapannya mengunci mata Li Wei. "Kau mengorbankan nyawaku, Li Wei. Kau membiarkanku terjatuh ke jurang itu, demi menikahi putri jenderal dan mengamankan kekuasaanmu." "Itu *bukan* kehendakku!" "Benarkah? Lalu, siapa yang memerintahkan prajurit untuk tidak mencari tubuhku?" Ling Xia berhenti tepat di depan Li Wei, jarak mereka hanya beberapa inci. "Siapa yang membungkam semua saksi mata?" Li Wei terdiam. "Kabut pegunungan menyimpan banyak rahasia, Yang Mulia. Sama seperti hatimu. Tapi kabut itu akhirnya menyingkap kebenaran, bukan?" Ling Xia mengulurkan tangan, menyentuh pipi Li Wei. Sentuhan itu lembut, namun terasa dingin seperti es. "Kau tahu, Li Wei, selama lima belas tahun aku merencanakan ini. Aku belajar, aku berlatih, aku menunggu. Aku menunggu saat yang tepat untuk kembali dan menagih hutangmu." Li Wei menatapnya dengan ngeri. "Apa yang kau inginkan?" Ling Xia menarik tangannya. "Aku tidak menginginkan tahtamu, Li Wei. Aku tidak menginginkan kekuasaan. Aku hanya ingin kau tahu... bahwa selama ini, kau adalah *bidak* dalam permainanku." Ling Xia berbalik, berjalan menjauh dari Li Wei, meninggalkan Kaisar itu membeku di tempatnya. Suara seruling semakin memudar, digantikan oleh keheningan yang mencekam. Di balik jubah putihnya, Ling Xia menyeringai. "Karena sejak awal, akulah yang memegang kendali."
You Might Also Like: Distributor Skincare Bisnis Tanpa Stok

Post a Comment