## Cinta yang Tak Lagi Menyakitkan Hujan gerimis membasahi kota, serupa air mata yang tak pernah benar-benar kering. Di beranda sebuah kedai kopi kecil, Lian duduk memandang jalanan yang berkilauan. Aroma kopi pahit seolah mencerminkan hatinya yang telah lama kelam. Di seberang meja, duduk seorang pria dengan tatapan menyesal. Zhao, cinta pertamanya, cinta yang *TERLAMBAT*. Dulu, Zhao berjanji akan selalu ada. Di bawah langit musim semi yang penuh bunga sakura, ia berbisik tentang masa depan, tentang rumah kecil di tepi pantai, tentang anak-anak yang berlarian. Janji itu indah, terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Zhao memilih karirnya, ambisinya yang membubung tinggi, meninggalkan Lian terhempas di dermaga kesepian. "Lian, maafkan aku," lirih Zhao, suaranya serak. "Aku... aku terlalu bodoh." Lian tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Maaf? Apa yang bisa ditebus dengan kata maaf, Zhao? Waktu? Kepercayaan? Hati yang kau remukkan menjadi serpihan yang tak bisa lagi disatukan?" Dulu, rasa sakit itu begitu tajam, menusuk setiap inci dirinya. Dulu, ia tenggelam dalam lautan air mata, meratapi *KEHANCURAN* mimpi-mimpinya. Tapi sekarang, rasa sakit itu telah berubah. Ia bukan lagi kepedihan yang mematikan, melainkan bara api yang membakar perlahan, menghasilkan abu dendam yang dingin. Lian mengangkat cangkir kopinya, menatap Zhao lekat-lekat. "Dulu, aku hancur karena mencintaimu. Sekarang, aku *bebas*." Lima tahun berlalu. Lian menjadi pengacara yang sukses, namanya dikenal di seantero negeri. Kasusnya selalu dimenangkan, ketegasannya tak tertandingi. Dan Zhao? Ia terjebak dalam pusaran skandal keuangan yang melibatkan perusahaan keluarganya. Reputasinya hancur, karirnya terancam, masa depannya suram. Dan pengacara yang ditunjuk untuk membela perusahaan saingan? Lian. Di ruang sidang yang dingin dan formal, mata mereka bertemu. Tatapan Lian tajam, penuh perhitungan. Zhao menatapnya dengan putus asa, mencoba mencari secercah harapan. Tapi yang ia temukan hanyalah *kehampaan*. Saat palu hakim diketuk, menandakan kekalahan Zhao, Lian hanya tersenyum tipis. Kemenangannya terasa hambar, namun ada kepuasan dingin yang menjalar di hatinya. Ia tidak berteriak, ia tidak menghina. Ia hanya membiarkan takdir menjalankan tugasnya. Sambil berjalan keluar dari ruang sidang, Lian membisikkan satu kalimat ke telinga Zhao, sebuah bisikan yang akan menghantuinya selamanya: *Apakah ini yang kau rasakan saat dulu meninggalkanku?*
You Might Also Like: Bushnell Golf App Course List 97 Cognac

Post a Comment