TOP! Bayangan Yang Mengajarkanku Berbohong

Bayangan yang Mengajarkanku Berbohong

Lorong istana itu sunyi. Lebih sunyi dari makam para kaisar. Obor-obor di dinding menari lemah, melemparkan bayangan panjang yang meliuk-liuk seperti ular. Di tengah lorong itu, berdiri seorang pria. Wajahnya pucat pasi, nyaris menyatu dengan kabut tipis yang entah bagaimana menyelinap masuk dari luar. Ini adalah Zhen Wei, pangeran mahkota yang lima tahun lalu dinyatakan tewas dalam pemberontakan.

Ia kembali.

Di ujung lorong, sosok anggun dalam jubah sutra ungu muncul. Permaisuri Lian, yang dulu meratapinya, kini menyambutnya dengan senyum tipis yang tidak mencapai matanya.

"Wei, anakku. Akhirnya kau kembali," bisik Permaisuri, suaranya selembut sutra, namun sedingin es.

Zhen Wei membungkuk hormat. "Salam pada Ibunda. Saya membawa jawaban atas pertanyaan yang selama ini membayangi istana."

Permaisuri mendekat, aroma melati yang kuat menguar dari tubuhnya. "Pertanyaan apa, anakku? Kami sudah mengubur semua pertanyaan bersama jasadmu."

"Tidak, Ibunda. Pertanyaan itu tetap hidup. Siapa yang mengkhianatiku? Siapa yang menginginkan kematianku?" Mata Zhen Wei menatap tajam, mengalahkan kilau obor.

Permaisuri tertawa lirih. "Pengkhianat? Tentu saja para pemberontak. Mereka haus darah dan kekuasaan."

Zhen Wei menggeleng. "Bukan mereka. Pemberontak hanyalah bidak. Ada dalang di balik layar, Ibunda. Seseorang yang lebih dekat dari yang kukira."

"Omong kosong! Jangan menuduh sembarangan, Wei! Kau baru kembali, jangan mengotori istana dengan fitnah!" Nada suara Permaisuri meninggi, namun senyum itu tetap bertengger di bibirnya. Senyum yang membuat bulu kuduk Zhen Wei meremang.

"Ibunda... Mengapa semua saksi mata kejadian itu tewas mengenaskan? Mengapa hanya saya yang selamat, meski terluka parah? Mengapa... mengapa Ibunda tidak pernah benar-benar bertanya bagaimana saya bisa bertahan hidup?"

Permaisuri berhenti tersenyum. Kabut semakin tebal, menyelimuti mereka dalam kesunyian yang mencekam. "Kau terlalu banyak tahu, Wei."

Zhen Wei mengangguk. "Saya diajarkan berbohong oleh bayangan, Ibunda. Bayangan yang selama ini menutupi kebenaran." Ia maju selangkah, menantang tatapan Permaisuri. "Dan bayangan itu... adalah Ibunda sendiri."

Permaisuri terdiam, hanya terdengar suara tetesan air dari atap lorong. Kemudian, sebuah seringai mengerikan merekah di wajahnya.

"Benar. Kau memang pintar, Wei. Lebih pintar dari ayahmu. Tapi sayangnya, kau terlambat." Ia mengangkat tangannya, memberi isyarat pada sekelompok prajurit yang muncul dari balik kegelapan.

Zhen Wei menatap mereka, lalu kembali menatap Permaisuri. "Mengapa, Ibunda? Mengapa kau menginginkan kematianku?"

Permaisuri mendekat, berbisik tepat di telinga Zhen Wei. "Karena kau adalah ancaman. Kau terlalu kuat, terlalu dicintai rakyat. Dan aku pantas menjadi penguasa."

Zhen Wei tertawa hambar. "Jadi selama ini... pemberontakan itu hanyalah sandiwara?"

Permaisuri mengangguk, matanya berkilat penuh kemenangan. "Kau benar, anakku. Pemberontakan itu hanyalah drama yang sempurna. Dan kau, bintang utamanya yang harus mati di akhir cerita."

Sebelum Zhen Wei sempat membalas, prajurit menyerbunya. Di tengah kekacauan, Permaisuri Lian berdiri tegak, senyumnya tak goyah. Ia memang seorang korban... korban dari ambisinya sendiri. Ia telah memanipulasi semuanya, dari awal hingga akhir. Semua adalah bagian dari rencananya, bahkan KEKEMBALIAN Zhen Wei.

Dan saat pedang prajurit itu menebas, Zhen Wei tersenyum. Karena ia tahu...

Bahwa ia membiarkan dirinya menjadi bidak, karena ia tahu bahwa permainan yang sebenarnya... baru saja dimulai.

You Might Also Like: 77 Review Sunscreen Lokal Ringan Tidak

OlderNewest

Post a Comment