Hujan selalu turun di atas Makam Keluarga Li. Rintiknya, seperti air mata yang tak pernah kering, membasahi nisan-nisan yang berbaris sunyi. Di antara nisan itu, ada satu yang selalu terasa lebih dingin, nisan Li Wei.
Bayangan Li Wei menolak pergi dari dunia ini. Bukan karena dendam, bukan karena amarah yang membara. Tapi karena sebuah KETIDAKSELESAIAN. Ada kata-kata yang tertahan di bibirnya saat napas terakhirnya berembus, kebenaran yang terkubur bersamanya.
Dia kembali sebagai roh. Bukan roh jahat yang haus darah, melainkan roh yang bergentayangan dalam kesunyian. Dia mengamati Jian, tunangannya, yang setiap hari meletakkan bunga lili putih di makamnya. Jian, yang matanya selalu menyimpan kesedihan mendalam, seperti danau yang kehilangan pantulannya.
Jian berusaha melupakan. Dia menjalani hidup, bekerja, tertawa bersama teman-teman. Tapi di mata Li Wei, Jian seperti sedang memainkan peran. Ada jurang yang tak terisi di hatinya, jurang yang hanya bisa diisi oleh ingatan mereka.
Li Wei mencoba berkomunikasi, menyentuhnya dengan sentuhan angin dingin, membisikkan kata-kata yang hanya bisa didengar oleh hati. Tapi Jian tidak mendengarnya. Dia hanya merasakan hawa dingin yang menusuk tulang, merinding tanpa tahu mengapa.
Suatu malam, Li Wei mengikuti Jian ke sebuah rumah tua, rumah keluarga Li yang kini kosong dan berdebu. Jian berdiri di depan lukisan Li Wei, lukisan yang dilukis Jian sendiri beberapa tahun lalu.
"Wei..." bisik Jian, suaranya pecah. "Aku mencoba...aku benar-benar mencoba melupakanmu. Tapi semakin aku mencoba, semakin jelas wajahmu di mataku."
Li Wei mendekat, berusaha meraih tangan Jian. Tapi tangannya hanya menembus tubuh Jian. KESIA-SIAAN. Dia ingin berteriak, ingin mengatakan yang sebenarnya. Bahwa kematiannya bukan kecelakaan. Bahwa ada orang yang menginginkannya mati. Bahwa dia mencintai Jian lebih dari apapun.
Tapi dia tidak bisa. Dia hanya bisa melihat Jian menangis, memeluk lukisannya, meratapi kehilangannya.
Beberapa hari kemudian, Li Wei melihat Jian menyelidiki kematiannya. Jian menemukan petunjuk-petunjuk kecil, potongan-potongan teka-teki yang mengarah pada satu nama: Zhang Lin, rekan bisnis ayahnya yang licik dan kejam.
Li Wei merasa lega. Jian sudah dekat dengan kebenaran. Tapi dia tidak ingin Jian membalas dendam. Balas dendam tidak akan membawa Wei kembali. Balas dendam hanya akan menghancurkan Jian.
Dia ingin Jian DAMAI.
Malam berikutnya, Li Wei membawa Jian ke sebuah tempat rahasia, sebuah taman kecil di belakang rumah mereka. Di sana, di bawah pohon sakura yang sedang bermekaran, Li Wei pertama kali menyatakan cintanya pada Jian.
Di sana pula, di dunia antara hidup dan mati, Li Wei membisikkan kebenaran terakhirnya ke telinga Jian. Bukan tentang pembunuhnya, tapi tentang cintanya yang abadi. Tentang kebahagiaan yang pernah mereka miliki. Tentang harapan untuk masa depan, bahkan setelah kematian.
Keesokan harinya, Jian menyerahkan semua bukti yang dia temukan kepada polisi. Dia membiarkan hukum yang bekerja. Dia tidak membalas dendam. Dia hanya menginginkan keadilan.
Di Makam Keluarga Li, hujan berhenti. Matahari mulai bersinar, menembus awan kelabu. Li Wei melihat Jian berdiri di depan nisannya, tersenyum tipis. Jian memejamkan mata, seolah merasakan sentuhan angin lembut di pipinya.
Akhirnya, Li Wei menemukan apa yang dia cari. Bukan balas dendam, tapi kedamaian untuk Jian. Kedamaian untuk dirinya sendiri.
Dia menatap Jian untuk terakhir kalinya, lalu berbalik, menghilang di antara pepohonan sakura yang bermekaran.
Semuanya akhirnya baik-baik saja, bukan begitu...?
You Might Also Like: Agen Kosmetik Bisnis Tanpa Modal Kota
Post a Comment